Sebelum Tewas, DA Telepon Keluarga

140
BUKTI. Kakak kandung DA, IN menunjukkan bukti transfer uang yang diminta DA dari Lapas Ciamis, Jumat (9/8). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Keluarga DA (45) di Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya menuntut Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis untuk memberikan kepastian tentang penyebab kematian almarhum saat dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Ciamis atas kasus penyalahgunaan narkoba.

Kakak kandung DA, IN (50) menyatakan, pihaknya belum menerima kejelasan pasti dari kejari terkait penyebab adiknya meninggal. Informasi yang didapat keluarganya hanya sekadar dugaan-dugaan bahwa DA meninggal karena sakit. “Belum ada kalau penjelasan pasti,” tutur dia saat ditemui Radar, Jumat (9/8).

IN menyebutkan, ada beberapa kejanggalan saat DA ditempatkan di Lapas Ciamis. Kejanggalan yang dimaksud yakni DA bisa menghubunginya melalui sambungan telepon seluler. Dia kurang ingat waktunya antara 31 Juli atau 1 Agustus. “Padahal di sana (lapas) kan tidak boleh ada HP,” ujarnya.

Saat itu, IN tidak mem­permasalahkan kenapa DA bisa menelepon. IN hanya merasa lega bisa berkomunikasi dengan adiknya. Lewat sambungan telepon, DA mengaku sehat dan baik-baik saja di dalam jeruji besi. “Dia (DA) mengaku ke saya sehat-sehat saja,” tuturnya.

Saat berkomunikasi lewat sambungan telepon, DA sempat meminta uang sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta dengan alasan yang tidak jelas. IN pun bingung dengan permintaan adiknya itu apakah harus disetujui atau tidak. Kemudian, dengan nomor telepon yang sama, ada seseorang yang menghubungi IN untuk menguatkan permintaan adiknya. “Katanya hal itu sudah biasa, saya pun aneh kenapa begitu,” kata dia.

IN pun akhirnya mencari uang pinjaman untuk dikirim ke adiknya sebesar Rp 500 ribu. Uang tersebut dikirimkan ke rekening bank atas nama Fedri Akbar Husaeni. Pada bukti transfernya, tercatat uang itu dikirim 1 Agustus 2019 sekitar pukul 11.10 WIB.

Pada tanggal 5 Agustus 2019, IN dihubungi oleh nomor telepon tak dikenal. Awalnya, dia enggan mengangkat panggilan telepon itu, setelah beberapa kali menghubungi barulah dia terima. “Di situ saya kaget sekali, katanya adik saya meninggal,” tuturnya.

Bersama keluarganya, IN langsung berangkat ke RSUD Ciamis. Jenazah DA langsung dibawa ke tanah kelahirannya di Kecamatan Sukaresik untuk dikebumikan.

IN tidak melihat secara langsung bagaimana kondisi jenazah. Dari penjelasan saudaranya, secara fisik tidak ada bekas-bekas kekerasan, hanya ada bekas kerokan di punggungnya. “Makanya saya penasaran kenapa dia bisa meninggal, karena dia (DA) tidak memiliki riwayat penyakit yang parah,” tuturnya.

Wawancara sebelumnya, Kepala Lapas Kelas II B Ciamis Fajar Nur Cahyono menerangkan, Hasil pemeriksaan tim medis, kata Fajar, tidak ditemukan luka lebam akibat kekerasan di tubuh AD. Pihaknya sudah melaksanakan serah-terima AD kepada keluarganya setelah berkoordinasi dengan kejaksaan. Sejauh ini, pihak keluarga tidak mengusulkan permohonan autopsi terhadap jasad AD. “Kalaupun pihak keluarga penasaran, kami sangat terbuka,” katanya.

Sementara itu, terkait adanya komunikasi antara DA dengan keluarga melalui sambungan telepon, kata Fajar, sebenarnya tahanan itu dilarang membawa alat komunikasi seperti hand phone. Pihaknya akan melakukan penyelidikan masalah tersebut. “Tentunya akan menjadi koreksi bagi kami dan akan dilakukan penggeledahan nantinya,” ujar dia.

AD merupakan tahanan titipan Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis yang masuk pada 30 Juli 2019. AD sedang menjalani sidang kasus narkoba dan terancam pasal 62 UU No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa barangsiapa secara tanpa hak, memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan pidana denda paling banyak Rp 100 juta.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Ciamis Suherman menjelaskan penyebab meninggalnya tahanan titipan Kejari, DA (45). Menurutnya, tahanan kasus psikotropika itu meninggal pada Senin (5/8) karena sakit.

Saat itu kasus psikotropika DA dalam proses pemeriksaan berkas untuk diajukan ke pengadilan. “Namun tahanan yang kami titipkan di LP Kelas II B Ciamis meninggal dunia di RSUD Ciamis, Senin (05/08) sekitar pukul 18.00, yang dikarenakan hasil pemeriksaan dokter itu sakit,” ujarnya pada Kamis (8/8).

Kasubsi Pratut Kejaksaan Negeri Ciamis Gede Maulana menjelaskan DA baru beberapa hari dititipkan ke­jaksaan ke Lapas Ciamis. Dengan me­ninggalnya DA, maka, kata dia, se­cara hukuman, sesuai ketentuan Pa­sal 77 KUHP, kewenangan me­nun­­tut dihapus karena tersangka me­­ninggal dunia. “Selain itu SOP (Stan­dar Operasional Prosedur, Red) ka­mi sesuai Peraturan Jaksa Agung No 36 tahun 2011 pasal 25 huruf B ada salah satu alasan-alasan yang di maksud sesuai dengan Pasal 77 ada­­lah dihapusnya penuntutan hu­kum tersangka atau terdakwa untuk ke­­pentingan hukum,” ujarnya. (rga/isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.