Sehari Sepuluh Kasus Perceraian Terjadi di Jawa Barat, 65% Akibat Sosmed

359
0
SOSIALISASI. Wali Kota Banjar Hj Ade Uu Sukaesih mengingatkan warganya untuk menjaga ketahanan keluarga Kamis (8/8). Berdasarkan data, tingkat perceraian di wilayah Provinsi Jawa Barat tinggi. Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya
SOSIALISASI. Wali Kota Banjar Hj Ade Uu Sukaesih mengingatkan warganya untuk menjaga ketahanan keluarga Kamis (8/8). Berdasarkan data, tingkat perceraian di wilayah Provinsi Jawa Barat tinggi. Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya

BANJAR – Tingkat perceraian di Provinsi Jawa Barat tinggi. Perlu ditangani secara serius. Hal tersebut dikatakan Kepala Balai Diklat KKB Garut Wilayah Priangan Timur Provinsi Jawa Barat Herman Melani SH.

“Di Jawa Barat sehari dirata-ratakan ada 10 kasus perceraian, dikali per bulan mencapai 300 kasus, dalam setahun berapa? Dikalikan sendiri,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Keluarga Nasional di Lapang Desa Sinartanjung Kamis (8/8).

Berdasarkan data, kata dia, sebanyak 65 persen perceraian di Jawa Barat diakibatkan faktor seringnya ibu-ibu atau bapak-bapak mengakses sosial media (sosmed) ketimbang berkomunikasi bersama keluarga di rumah selepas bekerja.

“Berawal masuk dalam grup, jalin komunikasi, kelamaan mengadakan reunian, ketemuan, janjian maka timbulah perselingkuhan tanpa sepengetahuan pasangannya,” ujarnya.

Faktor lain penyebab perceraian yakni ekonomi. “Dengan adanya kegiatan ini, mari bersama-sama tingkatkan ketahanan keluarga supaya hal ini (perceraian) bisa dicegah, jangan sampai terjadi,” katanya.

Dia mengatakan untuk memperkuat ketahanan keluarga yang perlu dilakukan yakni minimal setelah bekerja menyempatkan bersama keluarga saling bercengkrama. Biasakan mengobrol, bukan bermain hape.

“Singkirkan alat komunikasi. Meski dirasa berat itu harus dilakukan. Awalnya saya juga merasa berat, baru satu jam tidak kuat. Tapi ini demi menjaga keutuhan keluarga,” ujarnya.

Wali Kota Banjar Hj Ade Uu Sukaesih mengatakan perlu melakukan delapan fungsi keluarga untuk ketahanan keluarga. Delapan fungsi itu yakni agama, kasih sayang, perlindungan, sosial budaya, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan.

“Ketahanan keluarga harus ditingkatkan, lebih dekat lagi dengan keluarga, anak-anak harus diperhatikan. Waktu bersama keluarga lebih diprioritaskan, boleh bermain hape tapi ingat waktu dan keluarga,” ujarnya. (nto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.