Sekdis LHKP: Pengusaha Kulit Bandel

4
LEPAS MAHASISWA. Rektor Uniga Dr Ir H Abdusy Syakur Amin MEng menyerahkan mahasiswa yang akan mengikuti pensidikan bela negara di Markas Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 303/ Setia Sampai Mati (SSM), Kecamatan Cikajang Minggu (23/9).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

GARUT KOTA – Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) Kabupaten Garut Guriansyah menyebutkan para pengusaha kulit di kawasan Sukaregang sulit diajak musyawarah untuk menyelesaikan masalah limbah yang dikeluhkan warga.

“Pengusaha kulit di Sukaregang terbilang bandel. Kalau kita undang, yang datangnya bukan pemilik pabriknya, tetapi pegawainya,” terang dia saat dihubungi Rakyat Garut, Minggu (23/9).

Kondisi tersebut membuat permasalahan limbah sulit diselesaikan.

“Mau selesai gimana, pemilik perusahaannya juga tidak pernah datang,” terangnya.

Menurut dia, permasalahan limbah kulit sebenarnya bisa diselesaikan jika tiga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bersama yang dibangun pemerintah bisa beroperasi.

“Salah satu caranya yakni mengaktifkan IPAL, sehingga limbah kulit tidak langsung dibuang ke sungai,” terangnya.

Namun, kata dia, pengusaha sulit diajak duduk bersama membicarakan pengoperasian IPAL yang sudah dibangun oleh pemerintah tersebut.

“Kita ingin bicara soal operasional IPAL ini karena membutuhkan anggaran yang cukup besar. Kami ingin biaya operasionalnya ditanggung bersama-sama, karena anggaran kita terbatas,” katanya.

Dia menerangkan dari 54 pabrik penyamakan kulit yang memiliki mesin penyamak besar (molen), hanya ada satu perusahaan yang telah mengantongi izin lingkungan dari Pemkab Garut.

Sedangkan 8 pabrik lainnya telah memiliki dokumen lingkungan berupa UPL/UKL, namun belum mengantongi izin karena tidak memiliki fasilitas IPAL sebagaimana diisyaratkan dalam dokumen lingkungannya.

“Kalau industri penyamakan yang skala rumahan jumlahnya lebih banyak, mencapai 300 lebih,” katanya.

Dari total jumlah tersebut, kata dia, hampir semua pabrik pengelola kulit baik rumahan maupun pabrik besar yang belum miliki IPAL, semuanya membuang langsung ke Sungai Ciwalen yang bermuara di Sungai Cimanuk.

DISARANKAN MELAPOR

Masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Ciwalen yang merasa dirugikan disarankan melapor kepada polisi. Hal itu dilakukan supaya polisi bisa melakukan proses secara hukum para pengusaha kulit yang membuang limbah ke Sungai Ciwalen.

“Saya sebenarnya malu sama masyarakat, jadi mendingan lapor saja. Kami siap kawal,” ujar Kapolsek Garut Kota Kompol Uus Susilo saat dihubungi Rakyat Garut, kemarin.

Dia menyarankan warga yang resah dengan bau limbah kulit membuat laporan resmi.

“Ayo silakan ada beberapa perwakilan warga yang lapor, bawa barang buktinya, air, tanah dan lainnya sebagai barang bukti,” kata dia.

Dengan begitu, kata dia, pihaknya memiliki dasar untuk melakukan pemanggilan, kemudian pemeriksaan hingga pada akhirnya pengadilan yang akan memutuskan, benar tidaknya dari aduan yang disampaikan masyarakat itu.

“Semoga saja dengan berdoa, berikhtiar, para pengusaha itu tergerak hatinya (untuk memperbaiki),” terangnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.