Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

4%

19.6%

8.1%

68.3%

Sekolah Jarak Jauh di Kota Tasik, Disini Peran Guru BK…

86
0
istimewa. BELAJAR. Siswa SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya mengikuti belajar luring beberapa bulan lalu. Sementara itu, pemerintah meminta guru BK untuk memaksimalkan peran dalam menangani psikologis siswa selama Pembelajaran Jarak Jauh.
istimewa. BELAJAR. Siswa SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya mengikuti belajar luring beberapa bulan lalu. Sementara itu, pemerintah meminta guru BK untuk memaksimalkan peran dalam menangani psikologis siswa selama Pembelajaran Jarak Jauh.

TASIK – Diperpanjangnya pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi hal yang dilematis bagi siswa dan orang tua. Di sinilah peran guru bimbingan konseling (BK) yang menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan konseling terhadap permasalahan PJJ.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Dr Dadang Yudhistira Drs SH MPd menjelaskan permasalahan siswa dalam pembelajaran daring harus segera diatasi sehingga membuat suasana nyaman dan bersahabat.

“Maka guru BK harus bekerja sama dengan orang tua untuk menciptakan iklim yang menyenangkan saat pembelajaran di rumah,” katanya kepada Radar, Kamis (10/9).

Kondisi psikologi siswa sekarang ini lebih penting, maka guru BK jelas harus melihat kondisi anak didik. Karena saat PJJ ini banyak yang mengalami kesulitan belajar. “Di sinilah tugas guru BK untuk membantu atau mengatasi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar,” ujarnya.

Guru BK harus mengetahui kendala siswa saat belajar dari rumah. Apakah itu karena modulnya terlalu berat atau fasilitas belajar daring kurang memadai. “Guru BK harus mampu mendiagnosa anak-anak terdampak PJJ, sehingga mampu membantu belajar anak agar tidak stres,” katanya.

Dadang memaparkan, ada tiga permasalahan utama anak didik dalam PJJ, hal tersebut harus diantisipasi oleh guru dan orang tuanya. Pertama ancaman adanya kenaikan angka putus sekolah. Di sini pendukung utamanya kebosanan siswa dalam pembelajaran daring. “PJJ bagus, ketika ada solusi dari dampak negatifnya, yaitu dalam tempo lama membuat siswa tidak nyaman sekolah,” ujarnya.

Maka ia pun berpesan agar guru jangan sampai membiarkan siswa mengerjakan tugas terus-menerus. Tanpa diimbangi dengan pendekatan emosional.

Kedua, lanjut Dadang, PJJ ini menurunkan kualitas prestasi belajar siswa. Ini efek terbesarnya pada siswa yang masih kelas bawah. “Itu ketika anak didik kurang mendapat bimbingan dari orang tua di rumah,” ujarnya.

Di tambah belum adanya fasilitas perangkat dan dukungan internet. Walau akan mendapatkan bantuan kuota gratis. Namun, ada kasus orang tua yang tidak mendapatkan, karena tidak semua mempunyai handphone canggih.

“Belum siapnya sistem dan mekanisme pelaksanaan PJJ ini dapat meningkatkan kesenjangan sosial,” katanya.

Dampak terakhir, sambungnya, dikhawatirkan maraknya kekerasan yang tersembunyi, baik fisik ataupun verbal kepada anak. Akhirnya ada yang mengeluh dan tidak nyaman ketika belajar dengan orang terdekatnya.

“Maka belajar di rumah pun tidak maksimal dan malah kebanyakan main games. Ini dikhawatirkan akan menurunkan kualitas generasi masa depan,” ujarnya.

Lalu, sambungnya, PJJ ini bisa menciptakan sifat individualisme karena sudah terbentuk dengan kebiasaan kelas individu. Dulu saat belajar di kelas anak dapat bersosialisasi dengan teman kelasnya. “Sekarang dilakukan sendiri dengan menggunakan HP saja. Akhirnya belajar hanya satu arah, kepada guru saja,” katanya.

Agar tidak terjadi seperti itu, sambungnya, pihaknya membuka pintu tatap muka. Walau kriteria syarat yang ketat harus dipenuhi.

Menurutnya, sekolah tatap muka ini penting karena dalam pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan saja. Tapi bagaimana peran tenaga pendidik mengetahui potensi peserta didik serta mengajarkan nilai-nilai akhlak mulia, kepribadian dan bertakwa.

Makanya, dengan format PJJ ini sebaiknya ubah cara berfikir guru untuk tidak hanya transfer ilmu pengetahuan saja, namun harus memiliki rasa empati dan perhatian. “Upaya ini untuk menyelamatkan gagalnya pendidikan di masa pandemi Covid-19,” katanya.

Senada, Kepala Seksi Pelayanan Pendidikan Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII Tasikmalaya Dedi Suryadin SPd MPd menjelaskan pada pandemi ini pihaknya mengkhawatirkan kondisi anak didik yang kesulitan untuk berkolaborasi. “Itu karena terbatas interaksi sosialnya. Dunia mereka sekarang dunia maya yang ada digenggamnya,” ujarnya.

Ketika dilakukan secara berkelanjutan, ini akan berdampak pada psikologi siswa, salah satunya malu berinteraksi. “Berarti peran guru konseling harus bisa mengajak berbicara, curah pendapat, dan lainnya,” katanya.

Maka ketika pandemi, guru ini harus memosisikan sebagai teman dekat. Itu menjadi alternatif bagi anak didik mau menumpahkan permasalahan. “Sehingga hatinya terasa lebih ringan setelah curhat dan mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapinya,” ujarnya. (riz)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.