Sekolahnya Merasa Dicederai, Siswa Ngadu ke KPAID Tasik, Ato: Merupakan Kekerasan Psikis

65
0
MENGADU. Sejumlah pelajar MAN 3 Tasikmalaya menjelaskan keluh kesahnya soal tulisan wartawan abal-abal yang membuat mereka tidak nyaman kepada Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto, Selasa (2/2/2021). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

TASIK – Para pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Tasikmalaya dibuat resah dengan tulisan dan video narasi yang mencederai nama madrasah. Mereka pun mengadukan hal itu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (2/2/2021).

Tulisan dan video narasi itu menyebutkan adanya oknum guru di lembaga pendidikan yang dikenal MAN Ciawi itu, ada yang berbuat tak pantas. Website dengan tulisan itu pun disebarkan khususnya di wilayah Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya.

Salah seorang perwakilan siswa, Fitri Sondari mengatakan dia dan teman-temannya banyak mendapat pertanyaan dari masyarakat. Ia pun langsung menanyakannya ke pihak sekolah yang dengan tegas membantahnya.

“Saya tanya ke pihak sekolah, itu tidak benar,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Namun tulisan dan video narasi sudah terlanjur beredar, sehingga membuat dia dan teman-temannya merasa tidak nyaman. Karena hampir setiap hari mereka harus menjawab pertanyaan dari masyarakat di lingkungannya. “Tentu sangat mengganggu kami yang seharusnya belajar,” ujarnya.

loading...

Baca juga : 63 Rumah Warga Kota Tasik Tertimpa Bencana

Fitri pun khawatir kakak-kakaknya yang nanti lulus kehilangan percaya diri. Karena tercemarnya nama guru dan sekolah sedikit banyak menjadi predikat buruk bagi lulusan. “Jadi kami ini di bawa ke jalur hukum dan nama baik MAN 3 Tasikmalaya ini kembali pulih,” katanya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan bahwa ini merupakan bagian dari kekerasan psikis kepada para siswa. Karena isu yang menerpa sekolahnya berdampak pada siswa.

Pihaknya sudah berkomunikasi dengan sekolah dan membantah isu tak sedap itu. Tetapi sekalipun isu yang beredar itu tidak benar, dampak psikis kepada para pelajar tetap terjadi. “Penelusuran dari pihak Kemenag pun hasilnya berita tersebut tidak benar,” katanya.

Pihaknya pun berkoordinasi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tasikmalaya terkait konten tulisan tersebut. Pasalnya, website yang memuat tulisan dan video narasi itu disebut-sebut sebagai media massa. “Kita perlu pastikan yang menulis ini betul wartawan atau hanya mengaku-ngaku sebagai wartawan,” terangnya.

KPAID Kabupaten Tasikmalaya pun akan mengkaji lebih dalam terkait duduk perkaranya. Jika memang masuk unsur pidana, maka jalur hukum pun akan ditempuh. “Karena sementara ini kita lihat ini ada unsur pidana dengan korban anak,” terangnya.
Pada kesempatan itu, Ketua PWI Tasikmalaya Firman Suryaman mengatakan pihaknya tidak menemukan nama media tersebut di daftar media massa yang terverifikasi dewan pers. Sehingga, dia menilai bahwa itu bukan produk jurnalistik. “Mungkin itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai wartawan,” katanya.

Dia berharap baik lembaga pemerintah maupun pendidikan untuk bisa membedakan mana media massa, media sosial atau website biasa. Karena sampai saat ini tidak sedikit ada orang yang mengaku-aku sebagai wartawan.

“Ini sebetulnya fenomena yang sudah lama, jadi kami harap semua pihak bisa lebih selektif,” pungkasnya. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.