Semangat Kewirausahaan Melalui Bank Sampah di Sekolah

66
Oleh: AFFI ENDAH NAVILAH Kepala SMPN 10 Tasikmalaya

Lingkungan merupakan tempat terjadinya interaksi makhluk hidup dengan makhluk tak hidup. Setiap makhluk hidup di bumi ini memiliki saling ketergantungan terhadap makhluk hidup lainnya bahkan kepada benda mati, demikian sebaliknya, sehingga seluruh benda di alam atau di lingkungan ini saling membutuhkan satu sama lainnya.

Dalam konteks saling ketergantungan tersebut, tumbuh aneka permasalahan, utamanya timbul karena sikap dan perilaku manusia. Seringkali manusia tidak menyadari atau dengan sengaja melakukan sikap yang secara perlahan menimbulkan permasalahan di lingkungan.

Timbulnya berbagai masalah lingkungan sebagian besar karena tidak bijaknya manusia dalam memperlakukan lingkungan. Polusi, penipisan lapisan ozon, hujan asam, berkurangnya sumber daya alam, pembuangan limbah dan sampah, adalah sebagian dari masalah lingkungan yang timbul dan menjadi perhatian dunia.

Masalah sampah, adalah masalah yang sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Masalah sampah erat kaitannya dengan kesehatan dan kenyamanan hidup manusia. Meskipun demikian, masalah sampah belum sepenuhnya dapat diatasi secara menyeluruh, karena belum tumbuhnya karakter dan kebiasaan sebagian besar masyarakat dalam memelihara dan mengelola lingkungan. Padahal volume sampah yang dihasilkan masyarakat semakin tinggi, hal ini seiring dengan pertumbuhan, pertambahan jumlah penduduk, dan perubahan gaya hidup.

Perubahan gaya hidup menyebabkan jenis sampah yang dihasilkan menjadi lebih beragam, plastik beraneka jenis, stereform, botol, pembungkus makanan, dan lain sebagainya. Beberapa kebijakan tentang pengurangan sampah plastik mulai digulirkan, seperti penggunaan plastik berbayar di supermarket. Namun hal ini pun sepertinya belum optimal, karena inti dari jalan penyelesaiannya adalah kesadaran manusia dalam mengelola sampah dan lingkungan.

Di lingkungan sekolah, masalah sampah plastik juga menjadi kendala utama dalam kebersihan lingkungan. Beraneka ragam jajanan sekolah yang 80% menggunakan pembungkus berbahan plastik merupakan faktor utama timbulnya masalah sampah plastik di sekolah. Alhasil, volume sampah yang dihasilkan semakin bertambah besar, tentu jika hal ini dibiarkan lama kelamaan akan menjadi masalah yang bertambah serius bagi kesehatan, keindahan, dan kenyamanan sekolah.

Disamping itu, beberapa permasalahan yang muncul di sekolah diantaranya adalah peserta didik masih memiliki kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya, belum menempatkan sampah sesuai jenisnya, belum ada konsep solusi penangan yang baik dan tepat terhadap sampah plastik, serta ketersediaan fasilitas tempat pembuangan sampah belum memadai dan sesuai dengan jumlah sampah yang dihasilkan.

Oleh karena itu, yang perlu terus dibangun upaya menumbuhkan kesadaran dalam mengatasi masalah lingkungan terutama masalah sampah. Upaya tersebut bisa kita mulai dari sekolah, karena sekolah merupakan tempat yang tepat untuk menumbuhkan sikap dan kebiasaan baik kepada peserta didik melalui program kegiatan yang terencana, terukur dan berkelanjutan. Hal itu termasuk membangun kesadaran dan menumbuhkan pemahaman peserta didik tentang bahaya sampah plastik dan sampah organik lainnya.

Sekolah harus mampu merencanakan suatu kegiatan dalam melatih dan membimbing peserta didik tentang bagaimana mengelola sampah dengan baik, tepat dan kreatif. Karena sampah tidak akan bisa dimusnahkan sama sekali di bumi ini, maka salah satu alternatif solusi yang harus dipikirkan dan dilaksanakan adalah membimbing peserta didik dalam mengelola sampah melalui reduce, reuse, recycle (3R).

Kegiatan 3R sejalan dengan praktik yang dilaksanakan pada kegiatan bank sampah. Peserta didik diajarkan tentang bagaimana mengelola sampah dengan tepat, mulai dari kelas masing-masing yaitu memilah sampah antara organik dengan anorganik, merapikan sampah plastik yang ada, lalu disetor ke bank sampah. Sampah yang disetor tersebut oleh petugas bank sampah ditimbang, dicatat, dan dibukukan sebagai tabungan sampah tiap kelas. Setelah terkumpul di bank sampah, plastik-plastik bekas tersebut dipilah kembali menjadi dua kelompok, yakni sampah plastik yang akan dijual ke pengepul, dan sampah plastik yang akan dikelola oleh peserta didik untuk menjadi barang yang memiliki kegunaan kembali, misalnya sebagai barang hiasan, tempat pensil, pot bunga, atau bahan ecobrick.

Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan bank sampah adalah; kesatu, membangun kesadaran dan perilaku peserta didik dalam membuang sampah dengan benar. Kedua, menumbuhkan kreativitas peserta didik dalam mengolah sampah menjadi barang yang memiliki nilai manfaat baru. Ketiga, menumbuhkan karakter kewirausahaan peserta didik dengan mengubah pola pikir bahwa sampah pun jika dikelola dengan baik akan memiliki nilai ekonomis.

Manfaat yang diharapkan dari terlaksananya kegiatan bank sampah akan terwujud lingkungan bersih dan nyaman bagi tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran, ketergantungan terhadap plastik menjadi berkurang, serta pemeliharaan kebersihan dan kenyamanan lingkungan menjadi suatu kebutuhan.

Disamping itu, pandangan terhadap sampah plastik menjadi berbeda, karena memahami tentang bahaya sekaligus manfaat yang diperoleh jika dikelola dengan baik dan benar. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan bank sampah, yaitu memilih tempat sebagai bank sampah, jika memungkinkan sekolah bisa menyediakan sebuah bangunan khusus, tapi bisa juga dengan memanfaatkan salah satu sudut sekolah. Kepala sekolah menugaskan guru untuk menjadi pembimbing, dan memilih serta menugaskan beberapa siswa sebagai pengelola bank sampah. Selain itu, sebelum kegiatan bank sampah dilaksanakan tentu perlu melakukan sosialisasi kegiatan kepada peserta didik dan seluruh warga sekolah, sehingga semua warga faham tentang mekanisme dan manfaat dari diselenggarakannya kegiatan bank sampah tersebut.

Program kegiatan bank sampah dapat dijadikan solusi sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik dalam mengatasi sampah di sekolah, sekaligus menumbuhkan jiwa dan karakter kewirausahaan, yang suatu saat nanti akan bermanfaat dalam pembentukan pola fikir peserta didik terhadap konsep kewirausahaan. Untuk itu perlu adanya perhatian dan motivasi yang serius dari pemerintah agar kegiatan bank sampah bisa terlaksana di setiap sekolah. (*)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.