Sembilan Kasus, Korbannya Anak-Anak

116
0

BUNGURSARI – Kasus kekerasan terhadap anak tidak pernah absen dalam penanganan instansi hukum Kota Tasikmalaya. Dalam enam bulan terakhir, tercatat sembilan kasus pidana dengan korban anak-anak.

Berdasarkan data Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya, sampai 4 Juli 2019 tercatat ada sembilan perkara dengan korban anak-anak. Didominasi oleh kasus asusila dengan pelaku orang dewasa.

Untuk dua tahun sebelumnya, di 2017 terdapat 29 perkara kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa. Sementara di 2018 kasus kekerasan seksual terhadap anak oleh orang dewasa tercatat 19 kasus.

Staf Pidum Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya Noermajati mengatakan bahwa perkara dengan korban anak memang tidak pernah absen. Setiap bulannya, selalu ada kasus yang masuk. “Paling banyak ya asusila, tapi 2018 alhamdulillah ada penurunan jumlahnya,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya Eki Sirojul Baehaki mengaku upaya melindungi anak dari orang dewasa memang sangat sulit. Pasalnya, khusus asusila awal permasalahannya di orang dewasa.

“Kalau awal masalahnya dari orang dewasa, kami pun sulit mencegahnya,” tuturnya.

Perlu ada kesadaran dari orang dewasa yang berada di sekitar anak untuk menjamin keamanan mereka. Dengan personel terbatas, pihaknya belum bisa melakukan upaya yang maksimal.

“Tim pun kami hanya sampai di tingkat Kecamatan, tapi biasanya kita kerja sama dengan PKK karena urusan anak masuk dalam masalah keluarga,” katanya.

Saat ini Kota Tasikmalaya sudah memiliki Kampung Ramah Anak yang berlokasi di Jalan Leuwianyar RW 3 Kelurahan Sukamanah Kecamatan Cipedes. Kawasan tersebut dinilai sebagai lingkungan yang steril dari kasus kekerasan terhadap anak.

“Kami harap kampung ramah anak itu bisa menular ke lingkungan lainnya,” katanya.

Ada pun fokus KPAD saat ini adalah menjaga anak dari dampak negatif gadget. Pasalnya, tidak bisa dimungkiri banyak perilaku menyimpang anak karena pengaruh teknologi di era digital tersebut. “Terlebih secara prinsip, anak-anak belum boleh menggunakan gadget tanpa pendampingan orang tua,” ujarnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.