Sembilan Warganya Tewas, Sang Lurah Dirikan Posko Tsunami Sendiri

41
SIGAP. Lurah Serua, Tangsel, Banten Cecep Iswandi di depan papan posko korban tsunami Banten di lobi kelurahan, Rabu (26/12). Sebanyak sembilan warganya menjadi korban. Khanif Lutfi / FIN

TANGSEL – Sembilan warga Kelurahan Serua, Ciputat, Kota Tangsel, Banten menjadi keganasan ombak Tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12) malam.

Sebuah posko khusus dibangun oleh pihak kelurahan. Posko merupakan satu-satunya Crisis Centre tingkat kelurahan yang dibangun 120 kilometer dari lokasi bencana.

Gerimis yang mengguyur Kelurahan Serua, Ciputat, Kota Tangsel, Banten baru saja reda, Rabu (26/12). Sekira empat orang duduk di bangku besi yang disediakan.

Dari percakapannya, mereka tengah membicarakan perihal rencana kepulangan salah satu korban tsunami di Pandeglang, Banten.

Korban yang dimaksud adalah Adinda Putri Annisa (13). Gadis yang dinyatakan hilang itu telah ditemukan petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Namun sudah tinggal nama. Sudah tak bernyawa.

Ambulance untuk menjemput jenazah korban juga sudah diberangkatkan, kini mereka tinggal menunggu jenazahnya tiba.

Gadis tersebut merupakan warga Kelurahan Serua. Di sudut ruangan, para kerabat gadis tersebut menangis sesengukan. Sudah hampir empat hari mereka menempati Posko Tsunami Kelurahan Serua.

Posko ini merupakan satu-satunya posko tsunami yang didirikan tingkat kelurahan di luar.

Bukan tanpa alasan, 17 warganya menjadi korban kedahsyatan tsunami di Selat Sunda beberapa hari lalu.

Di ruang tunggu pelayanan, Cecep Iswandi duduk termenung. Wajahnya murung. Beberapa staf kelurahan enggan menghampirinya.

Ia sedang berduka. Ada sembilan orang warganya meninggal dunia karena terseret ombak. “Selasa (25/12) pas Natal, korban baru delapan, sekarang tambah satu,” ujar pria yang menjabat Lurah Serua tersebut.

Gelas terisi penuh kopi di samping mejanya belum tersentuh. Wajahnya sesekali mendongak ke atas, matanya memejam. Mulutnya komat-kamit seperti membaca lafaz doa.

Sejak Minggu (23/12), Cecep bersama beberapa staf kelurahan membangun posko yang cukup sederhana itu. Memanfaatkan loby kelurahan.

Hanya ada papan tulis bertuliskan data korban dan dua deret bangku besi untuk relawan berkumpul.

Cecep sengaja mendirikan posko untuk membantu keluarga mengetahui secara pasti kondisi korban.

Ia bercerita, sejak dirinya mendapat kabar Minggu dini hari, dia gelisah dan tidak bisa tidur. Warganya dikabarkan menjadi korban tsunami. Datanya masih rancu, tak ada informasi lengkap.

Paginya, ia memutuskan untuk segera membuka posko. Ia juga mengontak Camat Ciputat dan beberapa relawan untuk menjadi sumbu komunikasi di tingkat kelurahan.

Sejak dibukanya posko, warga sekitar banyak yang berkerumun. Mereka ingin tahu, siapa yang menjadi korban tsunami di Selat Sunda. Beberapa warga juga banyak yang membantu mencarikan informasi terkait warga Serua yang sedang berlibur.

Ada lima ambulance yang sudah disiagakan. Sejumlah staf kelurahan ditugaskan mencari alamat lengkap korban. Ya, ada 17 warga Cecep yang menjadi korban tsunami. Mereka bertetangga. Mereka sedang mengisi liburan sekolah di Pantai Carita.

“Setibanya (jenazah, Red) di sini, langsung kita siapkan segala keperluannya. Seperti kain kafan, sampai tempat pemakamannya. Ini untuk memudahkan segala sesuatunya,“ kata Cecep di ruang tunggu Kelurahan Serua, kemarin (26/12).

Cuaca di Tangsel masih mendung, semendung hati Cecep yang kehilangan sembilan warganya. Ia juga mengaku sudah dua malam kurang tidur. Maklum, banyak yang harus diurus.

Termasuk mendata korban selamat dan mengantarnya ke RSUD Kota Tangsel dan beberapa rumah sakit lainnya.

Di tempat terpisah, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengunjungi korban selamat akibat terjangan tsunami Selat Sunda di RS Medika BSD, Serpong.

Pria yang biasa disapa Bang Ben ini mengatakan korban luka-luka yang dirawat di RS Medika BSD, rata rata mengalami infeksi berat dan ringan. Beberapa lainnya masih trauma akibat peristiwa naas tersebut.

“Pemerintah memberikan dukungan moril juga bantuan bagi korban yang masih dirawat. Alhamdulillah, para korban ditangani secara baik oleh ahli medis berpengalaman” ujar Bang Ben.

Para korban yang belum mendapatkan bantuan atau belum tercover oleh rumah sakit dan untuk korban meninggal dunia akan mendapatkan santunan Rp3 juta sesuai standar perda. (fin/tgr)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.