Sempat Dipolisikan, Pemain Kendang di Pangandaran Bilang Begini Pada Nakes..

47
0
Loading...

PANGANDARAN – Salah seorang pemain kendang berinisial S warga Desa Selasari yang juga anggota Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Pangandaran, akhirnya bisa bernafas lega dan pulang ke rumahnya. Seniman tersebut sebelumnya meringkuk di tahanan Polsek Parigi, atas kasus ujaran kebencian di status WhatsApp.

Dirinya menyampaikan permintaan maaf secara langsung atas perlakuannya yang dianggap telah menghina profesi tenaga kesehatan di Kabupaten Pangandaran, melalui status WhatsApp yang dibuat hari Senin (25/1) malam.

Dalam sebuah rekaman video S mengatakan kalau dirinya menyesali perbuatan yang dianggap menghina tenaga kesehatan dan tidak akan mengulanginya lagi.

“Saya meminta maaf kepada semua yang berprofesi sebagai dokter, perawat dan bidan serta pejabat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) khususnya wilayah Pangandaran,” ungkapnya di Mapolsek Parigi, Jumat (29/1).

Baca juga : Masih Jalani Isolasi, Bupati & Wabup Pangandaran tak Divaksin Pertama

loading...

Ia pun berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan jika terjadi lagi maka siap untuk dihukum. “Saya tidak akan dendam kepada pelapor atau kepada pihak lain atas terjadinya masalah ini,” tuturnya.

Dirinya juga bersedia menghadap kembali apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh penyidik untuk melakukan penyidikan lebih lanjut dan oleh pihak Kejaksaan Negeri maupun Pengadilan Negeri Ciamis di Persidangan. “Saya sanggup menerima sanksi hukum yang berlaku di Indonesia,” katanya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceng Hasim mengimbau kepada siapa pun untuk hati-hati dalam mengungkapkan perasaan di sosial media. “Meskipun kita mempunyai rasa benci, tapi harus bisa menahan emosi,” kata dia.

Dia berharap, semua pelaku seni bisa menjadikan contoh rekannya untuk tidak berlebihan menyampaikan pendapat. “Boleh mengemukakan pendapat asal jangan berlebihan,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua PAMMI DPC Pangandaran Sudrajat Amarullah mengatakan para pekerja seni memang terkena dampak yang signifikan dari kebijakan pengetatan prokes di Pemkab Pangandaran. “Banyak yang menggantungkan hidupnya dari seni, jadi banyak yang terdampak, tapi kami tetap sabar,” katanya. (den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.