Seorang Ayah di Garut Curi HP agar Anaknya Bisa Belajar Daring

191
0

TAROGONG KIDUL – Seorang ayah di Kecamatan Tarogong Kaler nekat mencuri handphone (hape) untuk memenuhi kebutuhan anaknya belajar daring atau online.

Kejadian ini terungkap setelah korban menemukan hape miliknya yang dicuri beberapa hari lalu.

“Saya itu inisiatif cari hape ayah saya pakai aplikasi pelacakan. Saat dicari, hapenya masih aktif,” ucap Ahmad, anak pemilik hape saat ditemui di salah satu kafe di Garut, Selasa (4/8).

Baca juga : 3 Warga Bayongbong Positif, Kasus Corona di Garut Kembali Bertambah

Ahmad akhirnya menemukan lokasi hape ayahnya tersebut. Jaraknya tak terlalu jauh dari rumah ayahnya. Namun betapa kagetnya Ahmad saat mengetahui hape ayahnya itu berada di sebuah gubuk kecil.

Ahmad pun memberanikan diri masuk ke rumah tersebut. “Awalnya sih kalau hapenya ada, pelaku pencurian mau saya bawa ke kantor polisi. Cuma setelah ketemu, kok jadi sedih dan ada rasa kasihan,” katanya.

Ahmad yang datang bersama seorang temannya lantas meminta izin masuk ke rumah tersebut. Di dalam rumah, terdapat pasangan suami-istri dengan tiga anak.

Rumah tersebut berukuran 4×6 meter dan terbuat dari bilik bambu. Tak banyak perabotan di dalam rumah. Hanya ada satu lemari pakaian dan lemari piring. Kondisi rumahnya sederhana.

Salah seorang anak, dilihat Ahmad sedang belajar daring memakai hape yang diduga milik ayahnya yang dicuri. Ahmad pun semakin sedih dan miris karena hape itu ternyata dipakai untuk belajar.

Menurut Ahmad, anak tersebut duduk di kelas 1 SMP. Sedangkan kakaknya sudah putus sekolah dan adiknya yang paling bontot belum sekolah.

“Saya sangat nggak nyangka si bapak nyuri hape biar anaknya bisa tetap sekolah dan belajar daring. Dari situ saya langsung lemas. Apalagi waktu nunggu, saya lihat keluarga itu cuma makan sepiring mi instan dan dimakan bersama,” ujarnya.

Setelah berbincang dengan bapak pemilik rumah, Ahmad mengatakan jika hape yang digunakan anak tersebut merupakan kepunyaan ayahnya. Bapak yang bekerja sebagai kuli itu pun mengakui jika hape itu memang hasil curian.

“Saya minta saja si bapak datang ke rumah biar nggak salah paham. Dia langsung datang sambil menangis,” ucapnya.

Bapak itu meminta maaf ke ayah Ahmad atas perbuatannya mencuri hape. Bapak itu mengaku terpaksa mencuri demi anaknya yang ingin belajar secara daring.

“Kalau niat nyuri, seharusnya semua barang berharga di rumah dibawa. Tapi ini kan cuma ambil satu hape,” katanya.

“Saya sama ayah sepakat nggak perpanjang. Semoga saja si bapak itu bisa punya rezeki untuk beli hape agar anaknya bisa belajar,” tambahnya.

Pemkab Akan Pikirkan Solusi

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman prihatin dan mengaku miris dengan kisah yang dialami bapak tersebut. Pemkab Garut akan memikirkan solusi agar kejadian serupa tak terulang.

“Saya sangat prihatin mendengarnya. Masyarakat Garut itu yang tak mampu sangat banyak. Apalagi dengan Covid-19 yang miskin baru itu sangat banyak,” ujar Helmi ditemui di rumahnya.

Sedangkan tuntutan di masa pandemi Covid-19, lanjutnya, cukup banyak. Apalagi di saat anak-anak harus belajar secara daring. Mulai dari penyediaan hape dan kuota.

“Ini yang tentu kami akan bicarakan. Sebenarnya sama pak bupati sebelum dengar kejadian ini kami rencananya mau beri subsidi hape. Cuma pembahasannya belum tuntas,” katanya.

Alternatif lain, Pemkab Garut akan menyediakan sarana belajar melalui radio sebagai pengganti belajar daring. Belajar di radio sudah mulai dilakukan di beberapa kecamatan oleh Dinas Pendidikan.

“Selain radio, ada juga rencana belajar melalui TV lokal. Mudah-mudahan ada TV lokal yang bisa membantu proses belajar daring. kalau TV kan minimal sudah ada di rumah,” ujarnya.

Peristiwa yang dialami warga Tarogong Kaler itu tentu jadi masukan bagi Pemkab Garut. Helmi mengaku jika di masa Covid-19, tingkat kemiskinan bertambah. Salah satu faktornya karena banyaknya pegawai yang dirumahkan.

Baca juga : Belajar Tatap Muka di Garut Tunggu Instruksi Gubernur

“Kalau lihat data, jumlah kemiskinan di Garut itu saat Covid berjumlah 70 persen dari 2,7 juta penduduk. Tapi mudah-mudahan sekarang berkurang karena sudah mulai ada yang bekerja kembali,” ucapnya.

Kebanyakan warga Garut bekerja sebagai buruh lepas, buruh pabrik dan petani. Untuk buruh lepas, memang akan kesulitan karena pekerjaannya tak menentu. “Makanya nanti kami akan salurkan bantuan tapi yang benar membutuhkan,” paparnya. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.