KPU Usulkan Pemilu Lokal dan Nasional

Serentak Bikin Beban Berat

20
0
Loading...

JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengusulkan sistem pemilu serentak diubah. Pemilu yang menggabungkan lima jenis pemilihan di tahun ini dianggap memberikan beban berat kepada pe­nyelenggara.

Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan jika Undang-Undang Pemilu perlu direvisi. Terutama menyangkut keserentakan pemilu. KPU mengusulkan keserentakan pemilu berikutnya dibagi ke dalam pemilu nasional dan pemilu lokal.

Pemilu nasional terdiri dari pemilihan presiden dan wakil presiden serta pemilihan anggota legislatif DPR. Sementara, pemilu lokal terdiri dari pemilihan kepala dan legislator daerah. Pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota hingga pemilihan anggota legislatif di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, diselenggarakan bersama.

“Kita akan membuat rekomendasi kebijakan kepada pembuat undang-undang, dalam hal ini pemerintah dan DPR,” kata Wahyu di gedung KPU, Jakarta, Senin (01/7).

Dia mengatakan evaluasi fokus soal Pemilu serentak 2019 yang menggabungkan lima jenis pemilihan umum, dinilai memberatkan penyelenggara pemilu. Akibatnya, banyak petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) meninggal karena kerja melebihi kemampuan.

“Orang normal kerja delapan jam. Beban pekerjaan KPPS dan pengawas itu berlipat ganda luar biasa. Kalau dipisah akan lebih mudah, termasuk dari segi pengelolaan logistik. Sekarang ini, karena serentak itu sebagian besar logistik dikelola dari pusat. Tapi kalau pemilu nasional dan lokal dipisah, akan ada pembagian tugas. Terutama dalam pengelolaan logistik antara pusat dan daerah. Dari sisi situ saja beban penyelenggaraan akan lebih rasional,” jelas Wahyu.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Rahmat Bagja sependapat dengan KPU. Pemilu serentak sebaiknya dibagi ke dalam beberapa jenis pemilihan. Pasalnya, pada 2024, penyelenggara pemilu akan menghadapi pilkada serentak dan pemilu serentak. “Kami masih dalam proses pembicaraan, tapi menuju ke sana (usul pemilu serentak dipisah,Red). Tapi kan tetap usulannya kepada pembuat regulasi, yaitu DPR. kami harapkan nanti dengan DPR, ada pembicaraan khusus mengenai itu,” paparnya.

Loading...

Sementara itu, Akademisi Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai jika pemisahan pemilu selain dibagi ke lokal dan nasional, bisa dibagi juga ke dalam legislatif dan eksekutif. Hal ini dinilai bisa memunculkan seluruh visi-misi calon secara merata, sehingga bisa diketahui oleh pemilih.

Berkaca pada pemilu tahun ini, pemilihan legislatif dirasa kurang mendapat sorotan. Baik tingkat nasional maupun tingkat lokal. Semuanya kalah dengan pemilihan presiden. Pemilih pun dirasa enggan mencari lebih jauh siapa saja yang maju dalam kontestasi di tingkat legislatif, baik nasional maupun lokal. “Saya rasa menurut tripartit, pemilihan bisa dibagi kedalam tiga bagian. Yakni yudikatif, eksekutif dan legislatif. Ini bisa lebih baik. Pemilih tidak kebingungan nantinya,” kata Emrus kepada Fajar Indonesia Network (FIN), di Jakarta, Senin (01/7).

Layak Dicontoh

Bank Dunia menilai keberhasilan Indonesia menyelengggarakan pesta demokrasi secara serentak, layak dijadikan contoh bagi negara-negara demokratis di kawasan ASEAN.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Rodrigo Chaves mengatakan Indonesia berhasil menyelenggarakan Pemilu terbesar dengan bebas dan damai.

“Pemilu di Indonesia disebut sebagai pemilu terbesar karena banyak kandidat lebih dari 170 juta penduduk memilih dengan bebas dan damai,” kata Chaves di Jakarta, Senin (1/7).

Menurut Chaves, penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan secara serentak di Indonesia dapat dijadikan contoh oleh negara di ASEAN. “Sifat negara demokratis di kawasan ASEAN mampu ditunjukkan Indonesia. Setidaknya resep negara sejahtera akan dicapai Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, Chaves melihat dalam waktu beberapa terakhir Indonesia mampu menunjukkan kebijakan makroprudensial secara kehati-hatian, sehingga menghasilkan ekonomi yang stabil. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahan guncangan baik pada tingkat lapangan kerja, pengangguran, kemiskinan di bawah 10 persen,” tandasnya. (der/khf/fin/)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.