Setelah Pilkada, Dalam Pidatonya Bupati Pangandaran Bilang Begini..

55
0
Istimewa. UPACARA. Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata memimpin upacara Hari Amal Bakti ke-75 Kementerian Agama di depan Setda Pangandaran Selasa (5/1).
Istimewa. UPACARA. Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata memimpin upacara Hari Amal Bakti ke-75 Kementerian Agama di depan Setda Pangandaran Selasa (5/1).
Loading...

PANGANDARAN – Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata memimpin upacara Hari Amal Bhakti ke-75 Kementerian Agama tingkat Kabupaten Pangandaran. Dalam kesempatan itu Jeje mengajak masyarakat Pangandaran kembali merajut persatuan pasca Pilkada 2020.

Dalam pidatonya Jeje membacakan pidato Menteri Agama Republik IndonesiaYaqutCholilQuomas. Dalam pidato dikatakan bahwa peringatan Hari Amal Bakti tahun ini mengusung tema “Indonesia Rukun”.

“Tema ini sejalan dengan semangat nasional yang menempatkan kerukunan umat beragama sebagai salah satu modal bangsa ini untuk maju. Tanpa kerukunan, akan sukar menggapai cita-cita besar bangsa agar sejajar dengan bangsa lain di dunia,” ujarnya di halaman Setda Pangandaran Selasa (5/1).

Ia mengatakan toleransi dan kerukunan antar umat beragama dilakukan dengan tanpa mengusik akidah dan keimanan masing-masing pemeluk agama.

”Pengalaman membuktikan toleransi dan kerukunan tidak tercipta hanya dari satu pihak, sedangkan pihak yang lain berpegang pada hak-haknya sendiri,” jelasnya.

Loading...

Baca juga : Massa Kembali Datangi Bawaslu Pangandaran, Tanyakan Soal Ini..

Bupati Jeje juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Pilkada Pangandaran sudah selesai.Untuk itu tidak adalagi istilah nomor urut satu nomor urut dua.

“Proses Pilkada merupakan pembelajaran dan implementasi demokrasi, untuk meningkatkan motivasi dan kebersamaan dalam rangka membangun Pangandaran,” katanya.

Adapun mengenai dinamika yang terjadi pasca Pilkada kemarin, merupakan proses yang wajar dalam dunia politik dan dimanapun pasti terjadi. ”Dinamika atau ketidakpuasan disampaikan sesuai koridor ketentuan,serta memperhatikan tatakrama dan etika,” tegasnya.

Ia mengatakan bahwa dinamika dalam berdemokrasi tidak harus dilakukan dengan menunjukan sikap berlebihan.“Perilaku yang berlebihan dalam menyampaikan pendapat hanyalah perilaku oknum-oknum tertentu,” pungkasnya. (den/rls)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.