Setelah Sontoloyo, Muncul Genderuwo

15

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TEGAL, – Setelah me­nge­mukakan politik sontoloyo, kini Presiden Joko Widodo menilai banyak politikus yang pandai mempengaruhi tanpa menggunakan etika politik yang baik serta tidak memakai sopan santun.

Dengan melakukan pro­pa­ganda menakutkan hingga me­nimbulkan ketakutan.”Mereka melakukan politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, membuat ke­khawatiran, propaganda ketakutan,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada penyerahan 3.000 sertifikat tanah untuk warga Tegal dan sekitarnya, di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Setelah masyarakat takut, kata Jokowi para politikus itu membuat sebuah ketidakpastian. Sehingga masyarakat menjadi ragu-ragu. Bahkan, Jokowi membuat istilah baru dalam pernyataannya tersebut. Jokowi menyebutnya politik genderuwo.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Membuat ketakutan. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti, politik genderuwo,” ungkap Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengingatkan jangan  sampai hal tersebut terjadi. Karena berbahaya sekali. “Jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan,” tegasnya.

Dikatakan, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Dengan jumlah penduduk yang sudah mencapai 263 juta. Dari jumlah tersebut, terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa dan lainnya yang tersebar dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote.

“Kita memiliki 714 suku, banyak sekali suku di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, banyak sekali, 714 suku. Bahasa daerahnya ada 1.100 lebih. Ingat, aset terbesar bangsa ini, modal terbesar bangsa ini adalah persatuan, adalah persaudaraan, adalah kerukunan.” katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Jokowi, jangan sampai karena pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden ada yang tidak saling sapa dengan tetangganya,  tidak saling sapa antar kampung, antar desa, tidak rukun antar kampung.

“Jangan sampai terjadi seperti itu di Kabupaten Tegal, di Provinsi Jawa Tengah. Kalau pas ada pilih bupati ya pilih mawon yang sing paling sae sinten, pilih mpun, kalih tetonggo bedo pilihan enggak apa-apa, rukun lagi. Di majelis taklim ada yang berbeda pilihan enggak saling ngomong, meneng-menengan, ampun, enggak boleh seperti itu,” tuturnya.

Olehnya itu, Jokowi mengajak seluruh komponen masyarakat agar harus menjaga ukhuwah islamiah, menjaga ukhuwah wathaniyah. Karena semuanya adalah saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

“Jangan sampai tidak rukun, tidak bersatu, menjadi pecah gara-gara pilihan presiden, pilihan gubernur, pilihan bupati. Jangan sampai! Rugi besar kita ini. Karena apa? Setiap lima tahun itu ada pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden, ada terus, pilihan wali kota ada terus,” tukasnya. (hrm/fin)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.