Siapa pun Presidennya, Minyak Masalahnya

125
????????????????????????????????????????????????????????????

INILAH tantangan besar yang harus dihadapi presiden 2019 mendatang, siapa pun yang nanti terpilih: harga minyak. Saat ini ekonomi Indonesia memang harus berjibaku dengan dua variabel besar yang memberikan implikasi luas.

Tidak hanya bagi Indonesia, tapi juga global, yakni harga minyak dan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Funds Rate). Harga minyak berimbas pada harga energi seperti BBM dan listrik.

Harga energi berimbas pada harga produk yang ditanggung konsumen. Sedangkan Fed Funds Rate dengan pengaruh skala globalnya bisa mengaduk-aduk portofolio investasi raksasa-raksasa investasi dunia.

Akibatnya, nilai tukar rupiah menjadi fluktuatif, tidak stabil. Suatu kondisi yang kian menambah faktor uncertainty dalam bisnis. Itu kurang disukai pelaku usaha.

Untungnya, tahun depan variabel Fed Funds Rate pada perekonomian global mungkin melandai. Saat ini posisi masih di 2 persen.

Banyak ekonom memproyeksikan, hingga akhir tahun ini, The Fed akan kembali mengerek suku bunganya dua kali, masing-masing 25 basis poin. Sehingga bakal menyentuh angka 2,5 persen. Itu adalah angka yang dianggap ideal.

Dengan begitu, tahun depan The Fed diproyeksikan tak lagi mengutak-atik suku bunganya. Sehingga dampak uncertainty yang timbul dari efek domino Fed Funds Rate bakal mereda.

Jadi, tinggal satu variabel yang masih bergentayangan, yakni harga minyak. Kenapa harga minyak penting? Karena dampak fluktuasi harganya akan langsung dirasakan masyarakat.

Sebab, saat ini mayoritas jenis BBM maupun tarif golongan listrik sudah tidak disubsidi. Subsidi adalah instrumen dari pemerintah untuk meredam inflasi.

Dengan subsidi, risiko inflasi ditahan kantong pemerintah. Tanpa subsidi, risiko inflasi itu pindah ke kantong masyarakat. Karena sudah terkait dengan kantong dan periuk masyarakat, harga energi tidak hanya akan berada di ranah ekonomi. Tapi juga bakal merangsek masuk ke ranah politik.

Maka, persoalan energi ini dipastikan akan menjadi salah satu topik paling panas dalam hiruk pikuk pilpres nanti. Siapa pun calon presidennya harus punya jurus jitu untuk membumikan jargon Kedaulatan dan Kemandirian Energi.

Semua sudah tahu Indonesia telah menyandang predikat sebagai net importer minyak. Karena itu, tantangannya adalah bagaimana bisa memformulasikan strategi dari sisi supply dan demand.

Intinya, bagaimana meningkatkan produksi minyak dalam negeri dan bagaimana mengerem konsumsi BBM melalui konservasi energi.

Siapa yang punya jurus jitu yang realistis sebagai solusi masalah itu, dia berpeluang menggaet suara rakyat.

Lantas, bagaimana respons pasar terhadap hiruk pikuk kontestasi menuju kursi presiden? Ketika nanti nama-nama capres-cawapres sudah muncul pada Agustus tahun ini, ada waktu bagi pasar dan pelaku usaha untuk melakukan analisis selama delapan bulan hingga Pilpres April 2019 nanti. Tentu ada saja pelaku usaha yang wait and see. Tapi, mayoritas akan tetap bergerak. (owi/c9/tom)

*) Wakil Direktur Indef

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.