Singkirkan Gengsi, Honorer Pilih Jualan Seblak

956
0
CARI TAMBAHAN PENGHASILAN. Usep Saefuloh, tenaga honorer di Kota Banjar yang memiliki usaha sampingan dengan berjualan seblak Selasa (8/5). Cecep Herdi / Radar Tasikmalaya

Srek srek.. suara adonan seblak pedas diaduk perlahan di atas wajan menjadi wadah mengais rezeki baru bagi Usep Saefuloh (28), tenaga honorer yang mendedikasikan dirinya selama 11 tahun terakhir di laboratorium SMA Negeri 1 Banjar.

Usep panggilan akrab suami dari Tika Kartika itu merupakan satu dari ribuan tenaga honorer di Kota Banjar yang merasakan minimnya pendapatan seorang sukwan (tenaga honorer).

Ironinya, gaji seorang tenaga honorer tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari setiap bulannya. Tak ada gengsi yang ia rasakan, Usep bersama sang istri memilih usaha sampingan berjualan seblak.

Minimnya gaji honorer memaksa ayah dari Keylla Nur’aabidah ini ‘mendua’ dari pekerjaan utamanya.

Usep adalah honorer yang mau berbagi waktu dan tenaga disela rutinitas kedinasannya ke sekolah, demi menjemput tambahan penghasilan diluar isi amplop dari pekerjaannya sebagai tenaga honorer.

“Saya tetap bersabar dan tawakal serta berusaha mencari penghasilan tambahan setelah selesai bekerja di sekolah. Mun pareng pasti keyeng,” kata pria lulusan Unigal 2017 jurusan Pendidikan Biologi di kediamannya Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Selasa (8/5).

Bahkan usaha seblaknya ia namakan ‘Kang Guru” (Kang merupakan panggilan bagi pria suku Sunda, sedangkan Guru adalah profesi tenaga pendidik yang ia geluti).

“Kang Guru adalah nama yang cocok untuk usaha saya, unik dan mudah diingat. Selain itu ada hubungannya juga dengan pekerjaan utama saya,” ucapnya.

Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Maman Rokiman (Alm) dan Tati Rohayati ini pertama kali menjadi tenaga honorer mendapat gaji Rp 200 ribu per bulan, hingga 2016 gajinya sedikit demi sedikit meningkat hingga pada akhirnya ia menerima gaji Rp 800 ribu per bulan.

“Rp 800 ribu gaji saya naik sekitar dua tahun yang lalu,” kata honorer yang pernah juara ll dalam perlombaan tenaga laboran di tingkat Nasional, perwakilan dari Provinsi Jawa Barat 2017 silam.

Selain ulet dan mau berusaha membuka usaha baru, ia cukup berprestasi. Buktinya ia bisa pergi umrah ke tanah suci mekkah secara cuma-cuma berkat hadiah yang ia terima usai menjuarai perlombaan di tingkat nasional.

Usep bangga menjadi tenaga honorer yang berprestasi, meskipun minim penghasilan.

Lepas dari itu, ia berharap pemerintah lebih memperhitungkan akan kesejahteraan tenaga pembantu Aparatur Sipil Negara (ASN) itu.

“Saya setuju dengan adanya rencana atau usulan supaya gaji honorer disesuaikan dengan UMK, karena pekerjaan honorer bobotnya hampir sama dengan ASN, hanya beda status saja,” kata alumni SMAN 1 Banjar angkatan 2007 itu.

Dari ketekunannya membuka usaha sampingan, ia kini memiliki dua outlet seblak di kota yang memiliki empat kecamatan ini. Bahkan, ia mampu membuka lowongan pekerjaan baru untuk tiga pegawainya.

“Sekarang penghasilan utama saya yang lumayan mencukupi justru dari usaha sampingan ini,” katanya.

Ketua Forum Honorer Kota Banjar Hanasa angkat jempol atas ketekunan Usep yang mau berikhtiar mengais rezeki dari usaha sampingan diluar jam kerjanya sebagai honorer.

“Saya apresiasi kerja kerasnya dan kemauan dia, apalagi memiliki prestasi yang bagus. Yang penting usaha sampingan ini tidak mengganggu pekerjaan utamanya sebagai honorer,” katanya.

Ia sangat setuju bahkan berharap pemerintah segera merealisasikan gaji setara dengan UMK.

“Kami tetap berupaya untuk memperjuangkan nasib honorer, itu usulan yang bagus dari DPR RI, kami pun di daerah tidak diam. Kita bahkan sudah ada MOU dengan Wali Kota Banjar, honorer di Kota Banjar dapat honor daerah setiap bulannya sebesar Rp 250 ribu. Ada tambahan disamping mendapatkan gaji dari OPD masing-masing,” katanya.

Kepala BKPPD Kota Banjar Supratman mengakui gaji honorer minim. Meskipun bervariatif nilainya, namun belum setara dengan UMK Kota Banjar sebesar Rp1,4 juta.

“Data jumlah honorer di Kota Banjar sekitar dua ribuan kalau dijumlah dengan tenaga honorer SMA/SMK yang kewenangannya ada di provinsi sekitar tiga ribuan,” kata Supratman yang mengaku dua tahun lagi memasuki masa pensiun.

Ia pun setuju dengan usulan DPR RI dimana gaji honorer harus ditingkatkan minimal setara dengan UMK dan dibebankan ke APBD Kota/Kabupaten.

“Setuju, namun harus melalui prosedur seperti aturannya yang jelas, perhitungan belanja pegawainya harus dirumuskan ulang,” ucapnya.

(Cecep Herdi / Radar Banjar)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.