Calon Kepala Daerah Tak Boleh Dikotomi

Sinyal Koalisi Jumbo Mengemuka

192
KOMPAK. Ketua DPD Partai Golkar Erry Purwanto (dari kiri), Sekretaris Fraksi Gerinda Haris Somantri, Ketua Fraksi PPP Asop Sopiudin dan Ketua Fraksi PDIP Demi Hamzah Rahadian kompak salam komando, Senin (15/7).

SINGAPARNA – Peta politik jelang Pilkada 2020 masih dinamis. Belum ada satu partai pun yang deklarasi berkoalisi atau mengusung kandidat sebagai cabup dan cawabup. Namun, sinyal koalisi jumbo di pesta demokrasi lima tahunan ini mulai mengemuka dengan penjajakan yang dibangun para politisi di DPRD Kabupaten Tasikmalaya.

Ada empat tokoh partai politik yang terlihat akrab berkomunikasi di Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Senin (15/7). Seperti Ketua DPD Partai Golkar Erry Purwanto, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Demi Hamzah Rahadian, Sekretaris Fraksi Partai Gerindra Haris Somantri dan Ketua Fraksi PPP Asop Sopiudin. Empat politisi senior ini langsung melakukan salam komando dan jabat tangan dengan senyum penuh semangat.

Sebagaimana diketahui, keempat partai ini jika bersatu akan memiliki jumlah suara atau raihan kursi di DPRD yang besar. Raihan kursi PPP di Pileg 2019 mencapai tujuh, PDIP enam, Golkar tujuh dan Gerindra sembilan. Sehingga akan menjadi koalisi jumbo untuk menghadapi pesta demokrasi lima tahunan ini.

Erry mengatakan, komunikasi dan diskusi ringan ini bisa disebut penjajakan politik secara tidak langsung melalui fraksi yang merupakan kepanjangan tangan partai. “Ini obrolannya biasa, tapi punya makna bagaimana membangun Kabupaten Tasikmalaya lebih baik ke depan, melalui Pilkada 2020,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Kata dia, sebuah bangunan koalisi ini tidak jarang berawal dari obrolan ringan fraksi. Karena kedekatan fraksi satu dengan fraksi lainnya sudah terbangun baik dalam kelembagaan DPRD. Sehingga komunikasi yang dibangun akan lebih lentur dan santai.

“Dalam diskusi santai dengan fraksi lain pun soal pengerucutan nama atau kandidat, tetapi tidak sampai memunculkan nama. Mudah-mudahan harapannya bisa berkoalisi ke depan, ada kemungkinan. Ya mudah-mudahan gayung bersambut dari obrol ringan ini bisa menjadi koalisi, karena ada kesamaan ke depan membangun Tasik yang lebih baik,” kata Erry.

Lanjut dia, obrolan ringan ini tidak membicarakan figur. Melainkan lebih menyamakan persepsi soal kondisi dan membangun Tasik ke depan. “Karena kalau soal figur masing-masing partai mempunyai mekanismenya sendiri. Termasuk Golkar belum masuk ke ranah itu, karena akan melakukan dulu musyawarah nasional akhir tahun ini,” katanya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tasikmalaya H Demi Hamzah Rahadian SH MH mengatakan, diskusi ringan dengan fraksi-fraksi ini belum melangkah kepada pembangunan komitmen soal Pilkada 2020. Melainkan lebih kepada menyamakan persepsi soal Tasikmalaya.

“Itu pertemuan antara kita sebagai anggota dewan saja, ya mewakili pikiran-pikiran yang sama saja. Itu tadi ketemu dan mengobrol di Gedung DPRD. Ya kita selama ini kompak-kompak saja sebagai wakil rakyat. Kita juga termasuk empat orang kader dari empat partai juga, bisa dilihat,” ujar Demi.

Demi mengakui materi dalam obrolan tersebut memang mengarah kepada pembicaraan atau penjajakan soal Pilkada 2020. “Di politik itu nomor satu adalah berkawan, banyak kawan, menjaga silaturahmi, ya penjajakan itu setiap waktu. Kebetulan ya kita ngobrol-ngobrol saja secara pertemanan, cerita-cerita,” katanya.

Kata dia, walaupun sudah melakukan penjajakan, akan tetapi belum mengambil sikap soal koalisi untuk menghadapi Pilkada 2020. “Saat ini kita komunikasi, pendekatan, perkawanan, silaturahmi dengan semua partai. Namun semua itu tetap ditentukan oleh DPP,” kata dia.

Saat dikonfirmasi tentang diskusi ringan empat fraksi, Ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Tasikmalaya Asop Sopiudin dan Sekretaris Fraksi Partai Gerindra Haris Somantri enggan memberikan tanggapan.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tasikmalaya H Ami Fahmi ST mengaku berterima kasih kepada tokoh masyarakat yang menilai dirinya layak untuk tampil di Pilkada 2020. “Siapa pun boleh (figur dari Tasik Utara, Red), kalau saya belum cukup umur. Tetapi intinya keterwakilan ego sektoral atau ego kedaerahan pasti akan muncul,” ungkap Ami saat dihubungi Radar, Senin (15/7).

Kata dia, setiap orang pasti mempunyai pikiran ingin mempunyai pemimpin yang berasal dari wilayahnya. Namun, yang terpenting bagaimana calon kepala daerah mampu membawa Kabupaten Tasikmalaya ke depan lebih baik, termasuk hadirnya pemerataan pembangunan di semua wilayah.

“Yang terpenting bagaimana konsep, visi misi calon kepala daerah ke depan itu yang kita harapkan. Jadi bukan hanya dari sisi unsur kedaerahan saja, tetapi keberpihakan kepada masyarakat secara merata,” katanya.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Golkar H Yod Mintaraga mengatakan, keinginan warga Tasik Utara yang mengharapkan ada tokoh yang maju pada Pilkada 2020, itu merupakan hak politik sebagai warga negara. “Jadi siapa pun boleh maju, asal memenuhi syarat. Saya terima kasih saja kepada masyarakat yang mendukung. Tetapi di partai Golkar punya mekanisme dan bagaimana cara mengusung jadi kepala daerah,” ujarnya.

Yod mengaku mengikuti saja mekanisme dan tata cara pencalonan melalui partai politik. Namun, diharapkan kepada masyarakat tidak ada dikotomi soal calon kepala daerah yang akan mencalonkan. “Semua daerah sama saja, kalau sudah jadi tetap harus memimpin rakyat Kabupaten Tasikmalaya, tidak usah ada dikotomi,” katanya, menjelaskan.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto SIP mengatakan, berterima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan kepercayaan dan mendorong di Pilkada 2020. Namun, untuk melangkah ke pesta demokrasi lima tahunan ini masih jauh dari siap.

“Saya tidak berpikir terlalu jauh. Hari ini saya masih menjadi ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya sampai 2022. Saya akan berkonsentrasi ke KPAID. Ada pun proses saat ini akan dijalani seperti air mengalir saja,” paparnya.

Anggota DPD Partai Golkar Kabupaten Tasikmalaya Arief Arseha mengatakan, mengaku belum berpikir soal keinginan menjadi pemimpin atau tampil di Pilkada 2020. “Saya apresiasi dukungan moril dari masyarakat. Namun di setiap partai ada mekanismenya dan kita sebagai kader partai harus menghormatinya,” kata Arief.(dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.