Siswa Korban Asusila Yang dilakukan Oknum Guru PNS Terancam Trauma

265
0

TASIK – Siswa didik korban asusila yang dilakukan oknum guru PNS bernama YS (34), hingga kini belum mendapatkan pendampingan psikologis. Hal ini dikhawatirkan membuat murid perempuan itu menjadi trauma.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya Eki S Baehaqi mengaku terus berupaya memonitor kasus tersebut. Sampai kini, kata Eki, korban belum mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan traumanya. “Kami juga baru sebatas memonitor, tapi juga sudah menawarkan kepada keluar­ga kalau me­mang butuh pendam­ping­an,” ujarnya kepada Radar, Jumat (9/3).

Dia men­jelaskan kon­di­si psikologis kor­ban ha­rus segara men­dapatkan pe­­nanganan, jangan sampai kejadian yang dialaminya membuat siswa didik traumatik. Eki berharap pihak sekolah pun bisa memberikan perhatian kepada para korban supaya kondisi mentalnya tidak semakin drop. “Saya tadi sudah ke sekolahnya, tapi keburu bubar jadi belum sempat koordinasi,” tuturnya.

Terpisah, Psikolog Tasikmalaya Rikha Surtika Dewi MPsi menilai tindakan asusila dari guru ke murid merupakan penyimpangan seksual.

Meskipun dalam kasus ini, pelaku melakukannya kepada murid perempuan.
“Secara kasat mata jelas ini penyakit psikologis, karena dari usia bedanya cukup jauh,” ungkapnya kepada Radar, kemarin.

Akan tetapi, kata Rikha, yang menjadi faktor utama penyebab pelaku melakukan hal memilukan itu dirinya belum bisa menjelaskan lebih dalam. Pasalnya, perlu dilakukan pemeriksaan secara langsung kepada pelaku. “Karena bisa akibat masalah seksual dengan istrinya, atau ada penyebab lain karena usia segitu cenderung masih bisa tergoda,” tuturnya.

Sebab, dari kasus-kasus yang pernah dia tangani, kebanyakan hal itu berawal dari rasa penasaran dari informasi yang di dapatkannya melalui dunia maya atau internet. “Kalau yang normal hanya cukup mengetahuinya, tapi untuk mereka yang tidak bisa menahan rasa penasaran tersebut akhirnya diikuti,” terangnya.

Rikha menjelakan akan sangat berbahaya jika pelaku terbuai dengan perilaku asusila yang cenderung tidak normal itu. Maka perlu ada penanganan psikologis secara khusus untuk mengobati mental pelaku. “Kalau dia merasakan sensasi yang dinikmatinya, dikhawatirkan perbuatan itu akan terus berulang,” tuturnya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Kota Tasikmalaya H Dodo Rosada mengatakan proses hukum yang dijalani YS adalah risiko dari tindakannya. “Mau dia PNS atau masyarakat biasa kalau salah ya harus menanggung risiko,” ungkapnya kepada Radar,
Dodo mengungkapkan adanya kasus pelecehan seksual tersebut harus menjadi evaluasi bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya khususnya Dinas Pendidikan. “Pembinaan PNS harus dievaluasi, karena kasus pidana yang melibatkan PNS bukan hanya terjadi kali ini saja,” tuturnya.

Meskipun YS merupakan PNS, dia meminta Pemkot untuk tidak berupaya menutup-nutupi kesalahannya. Terlebih jika sampai ada intervensi meloloskan dia dari jeratan hukum. “Kalau memberi support boleh, tapi jangan sampai membela seolah itu perbuatan yang biasa saja,” katanya.

Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Korpri Kota Tasikmalaya H M Firmansyah mengaku apa yang dilakukan YS merupakan urusan pribadi. Untuk itu, pihaknya tidak akan ikut campur dalam proses hukum yang dijalaninya.
“Kalau kasusnya soal jabatan dia atau urusan tata negara, baru kita turun tangan,” singkatnya. (rga)

Video Pilihan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.