Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.2%

2.4%

54.3%

6.9%

0.7%

13%

0%

22.4%

0%

Siswa MI Belajar di Gubuk, Bangunan Kelas Hasil Swadaya Masyarakat

140
0
MI MIS CILEUNJANG FOR RADAR TASIKMALAYA BELAJAR DI GUBUK. Peserta didik MI Mis Cileunjang Kecamatan Bojonggambir harus rela belajar di gubuk beralaskan tanah.

BOJONGGAMBIR – Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mis Cileunjang Desa Campakasari, Bojonggambir harus rela belajar di gubuk. Pasalnya, sekolah ini tak memiliki bangunan kelas yang bisa digunakan peserta didiknya.

Sebanyak 76 siswa harus rela belajar bergantian di ruangan 10×4 yang disekat menjadi tiga bagian. Dinding bangun tersebut pun terbuat dari bilik dan kayu seadanya. Alasnya pun hanya tanah, tanpa ada lantai yang membuat para siswa belajar nyaman.

Kepala MI Mis Cileunjang Kecamatan Bojonggambir Deden Saeful Bahri AMa mengatakan, proses pembelajaran dibagi dua sesi. Siswa kelas I, II dan III belajar pukul 07.00-10.00 WIB. Sedangkan siswa kelas IV, V dan VI belajar pukul 10.00-13.00 WIB.

“Kami terpaksa menjalankan proses belajar mengajar di gubuk ini, karena tidak memiliki ruangan lagi. Ini juga gubuk hasil pembangunan swadaya masyarakat sekitar, tiga tahun silam,” ujarnya kepada Radar, Minggu (1/12).

Deden menjelaskan sebagian besar material ruangan kelas terdiri dari bambu dan kayu. Pada bagian samping dan belakang ditutupi bilik, bagian atapnya terbuat dari asbes dan beralaskan tanah. Tidak ada kaca, bagian depan tidak dipasang bilik, hanya samping dan belakang. “Ya jelas tidak nyaman belajar dalam ruangan seperti ini,” katanya.

Diharapkan pemerintah daerah dapat membuatkan ruang kelas baru. Dikhawatirkan ketika musim hujan, ruangan banjir dan becek. “Kami tentunya sangat mengharapkan ruang belajar yang layak, karena kasihan anak-anak. Kami bukan tidak mau membangun, tapi kemampuan anggaran terbatas,” katanya.

Lanjut Deden, sebelum ada MI hasil dari swadaya masyarakat ini, anak-anak di kampung ini bersekolah ke SD dengan jarak terdekat lima kilometer, yang ditempuh dengan berjalan kaki. Ketika musim hujan, anak-anak harus bersekolah dua hari dalam seminggu, karena jarak yang jauh dan cuaca buruk.

“Alhamdulillah dengan adanya MI, para orang tua dan anak-anak sangat terbantu untuk bisa menimba ilmu dengan jarak yang terjangkau. Mereka tidak harus jauh-jauh berjalan kaki menuju tempat belajar,” katanya, menjelaskan.

Deden mengaku terharu melihat anak-anak yang semangat dalam belajar meskipun hanya dalam gubuk. Mereka tidak pernah mengeluhkan dengan kondisi ini. “Saya cukup terharu melihat semangat mereka, ditambah dorongan orang tuanya yang ikut mendukung dengan dibangunnya gubuk untuk proses pembelajaran anak-anaknya,” harapnya.

Saat dikonfirmasi kepada Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tasikmalaya KH Usep Saepudin Muhtar terkait kondisi bangunan MI Mis Cileunjang melalui sambungan teleponnya belum memberikan jawaban. (obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.