Siswanya Meninggal di Gunung Cakrabuana, Kepala SMKN 2 Tasik Tegaskan tak Ada Perpeloncoan

256
0

KABUPATEN TASIK – Seorang siswa SMKN 2 Kota Tasikmalaya, Erwin Sudirja (16), meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan pendidikan dasar pecinta alam di kaki Gunung Cakrabuana, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (22/12).

Korban meninggal lantaran diduga kelelahan ketika mengikuti kegiatan yang dilakukan di luar sekolah itu.

Kepala SMKN 2 Tasikmalaya, Wawan, mengaku tak menyangka ada siswanya meninggal saat mengikuti kegiatan.

Padahal, kata dia, kegiatan itu sudah dilakukan sesuai standar operasional (SOP).

Ia menegaskan, dalam kegiatan yang memang dilakukan di luar lingkungan sekolah itu tak ada aktivitas perpeloncoan.


“Saya pastikan tak ada perpeloncoan. Kita juga serahkan itu ke pihak berwajib, dan memang ketika saya cek tak ada tanda-tanda kekerasan,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com usai prosesi pemakaman korban, Senin (23/12) pagi.

Ia menerangkan, kegiatan pecinta alam Lampah Kacakna itu dilakukan atas izin sekolah. Pendidikan dasar pecinta alam itu juga bukan yang kali pertama dilakukan, melainkan telah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya.

Menurut dia, kegiatan ekstrakulikuler pecinta alam memang selalu dilakukan di luar sekolah. Pasalnya, fasilitas yang ada di lingkungan sekolah tak memadai untuk melakukan kegiatan.

Sementara, waktu pendidikan sengaja dipilih pada akhir tahun, menyesuaikan dengan libur sekolah.

“Kami izinkan untuk berkegiatan di luar sekolah. Asal atas sepengetahuan kami dan SOP jelas,” terang penanggung jawab kegiatan itu.

Wawan menandaskan, tujuan kegiatan itu adalah untuk membentuk sikap siswa agar menjadi jujur, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, kerja sama, toleransi, cinta alam.

Diharapkan, setelah siswa mengikuti pendidikan mereka dapat menerapkan semua nilai-nilai itu.

Setiap siswa yang hendak mengikuti kegiatan di luar juga harus melampirkan surat keterangan sehat dari rumah sakit atau puskesmas. Sebab, mereka menuju lokasi peserta akan berjalan kaki. Karena itu, dihutuhkan fisik yang cukup dan siswa harus melampirkan surat keterangan sehat.

“Tapi saat kejadian, belum sampai ke lokasi, di rumah penduduk dia kelelahan. Jadi oleh tim diistarahatkan di rumah penduduk, dan seperti ini kejadiannya (meninggal). Itu di luar prediksi kami,” bebernya.

Sebelumnya, korban sempat pingsan ketika setelah menempuh perjalan sekitar 10 kilometer dari Kampung Nangewer ke kaki Gunung Cakrabuana pada Sabtu (21/10).

Korban sempat dirawat di rumah warga sekitar selama semalam. Namun hingga Ahad pagi kondisi korban tak juga membaik.

Panitia kegiatan pendidikan pecinta alam akhirnya memanggil ambulans untuk membawa korban ke Puskesmas Pagerageung.

Namun, dari Puskesmas Pagerageung korban dirujuk ke Puskesmas Ciawi. Saat dalam perjalanan ke Puskesmas Ciawi, korban dinyatakan meninggal dunia.

Dari Puskesmas Ciawi, jenazah korban dibawa ke rumah keluarganya, di Kampung Sindang Hurip, Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Wawan menandaskan, ke depan pihaknya akan lebih mengawasi kegiatan siswa yang dilakukan di luar sekolah. Ia berharap kejadian serupa tak terjadi lagi di kemudian hari.

Paman korban, Nanang Gunawan (55) menuturkan, pihaknya sudah ikhlas menerima kepergian kemenakannya tersebut. Ia menilai, kejadian itu merupakan musibah yang tak ada satu orang pun menginginkannya.

“Kita dari keluarga sepakat. Karena ini sudah takdir, sampai kapan pun kita memperjuangkan secara hukum, tak akan membuat almarhum hidup lagi. Jadi kami selesaikan secara kekeluargaan. Karena pihak panitia pun pasti tak ada niatan untuk membuat almarhum meninggal,” singkatnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.