Mengaku Diperkosa, Siswi SMP Asal Garut Berlindung di KPAI Tasik

678
0
MINTA PERLINDUNGAN. FD (kiri), siswi SMP di Garut yang jadi korban pemerkosaan dibawa keluarganya ke Sekretariat KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (25/4). FOTO: RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

TASIK – Seorang siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Garut, FD (14) mengaku diperkosa setelah diberi minuman oleh orang yang baru dikenalnya.

Keluarga FD pun mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya untuk meminta perlindungan, Rabu (25/4/2018).

FD (14) menuturkan aksi pencabulan itu bermula ketika Minggu malam (15/4/2018) sekitar jam 21.00, dia dihubungi oleh teman perempuannya yang berinisial In.

Saat itu dirinya diajak main dan akan dijemput oleh teman prianya yakni Al di rumahnya di Kecamatan Sukawening Kabupaten Tasikmalaya.

FD pergi tanpa sempat berpamitan kepada orang tuanya, karena diajak untuk buru-buru. Setelah nongkrong di suatu tempat dengan empat orang lainnya, sekitar pukul 23.00 mereka pulang ke rumah Hr di Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut.

Loading...

FD sempat memaksa untuk diantar pulang namun tidak digubris dengan alasan tidak ada kendaraan.

Saat itu FD diminta meminum air berwarna ungu dengan rasa yang aneh, meskipun hanya tiga tegukan efeknya membuat tenggorokan dia terasa hangat namun membuat tubuh lemas.

Dari situlah FD mulai digerayangi oleh salah seorang pemuda berinisial Na (27). “Saya berontak, tapi dipaksa terus,” ungkapnya.

Sekitar pukul 02.30 Senin dini hari (16/4) para lelaki keluar dari rumah tersebut, FD dan In kemudian tidur di salah satu kamar. Dia terbangun pukul 03.30 dan melihat ada Na di ruang tengah. FD diminta duduk di samping Na yang kemudian menggerayanginya secara paksa.

Akhirnya FD ditarik ke sebuah kamar kosong dan kemudian diperkosa oleh pemuda yang usianya jauh di atasnya. FD terus berontak tapi dia kalah tenaga oleh pemuda yang baru dikenalnya itu.

Setelah kejadian, FD diajak jalan-jalan oleh In ke Bandung dan baru pulang pada Rabu malam (18/4). Setelah pulang dia pun menceritakan kejadian yang dialamikepada bibinya dan kemudian diteruskan ke orang tuanya.

Kamis dini hari (19/4) ayah FD, YS (51) langsung melaporkan tindakan cabul tersebut ke Polres Kabupaten Garut.

Meski sudah lapor poisi, dia menyesalkan karena terlapor masih berkeliaran dengan bebas. “Belum ditangkap orangnya,” tutur dia.

Sementara ini, FD belum mendapat penanganan dari Pemerintah Kabupaten Garut, padahal kondisinya syok.

Salah satu kenalannya mengarahkan dia untuk meminta perlindungan kepada KPAID Kabupaten Tasikmalaya yang dilakukannya, kemarin. “Karena malu, anak saya juga belum sekolah lagi,” tuturnya.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto menuturkan akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan KPAI Provinsi Jawa Barat serta Pemkab Garut.

Karena kondisi psikis korban harus kembali dipulihkan dan hak pendidikannya harus tetap difasilitasi.

“Kalau memang perlu kami akan fasilitasi untuk pemulihan psikisnya dan juga menempatkannya untuk belajar di pesantren,” katanya.

Ini bukan pertama kalinya KPAID Kabupaten Tasikmalaya mendapat pengaduan dari korban kasus anak. Sebelumnya sudah sekitar 6 kasus, karena KPAI Kabupaten Garut masih belum terbentuk. “Sebab di Garut masih proses perintisan KPAI-nya,” kata Ato. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.