Siswi SMPN 6 Kota Tasik Dibunuh Bapaknya, Kadisdik: Study Tour Bukan Program Sekolah dan Tak Wajib!

2690
0

KOTA TASIK – Kadisdik Kota Tasik, Budiaman Sanusi menegaskan bahwa study tour bukan program sekolah dan tak wajib diikuti siswa.

Pernyatan itu dia ungkapkan terkait kematian Delis (13) siswi SMPN 6 Kota Tasik, ternyata tewas dibunuh bapak kandungnya, hanya karena gara-gara kekurangan biaya study tour Rp100 ribu dari Rp400 ribu.

Budiaman mengaku prihatin atas peristiwa yang menimpa siswi warga Kampung Sindangjaya Kelurahan Linggajaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasik.

“Kami sangat menyesalkan. Kita berharap itu adalah kecelakaan. Tapi kenyataannya yang bersangkutan ya dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri,” ujar Budi kepada wartawan, Kamis (27/02) sore.

Berita terkait : Delis Siswi SMPN 6 Kota Tasik Dibunuh Bapaknya, Motifnya Biaya Study Tour Rp100 Ribu
Berita terkait : Ibunda Almarhum Delis Siswi SMPN 6 Kota Tasik Minta Pelaku Dihukum Mati

“Ya saya sangat prihatin dan sedih. Mudah-mudahan tak ada lagi kejadian seperti itu. Karena itu kan darah daging sendiri. Karena hal kecil, tega menghabisi korban. Masih kecil anak itu, masih banyak harapan dan harus meninggal dengan cara seperti itu,” sambungnya.

Mengenai motif pembunuhan itu karena biaya study tour yang kurang Rp100 ribu dari total Rp 400 ribu, Budiaman mengaku belum diterima informasi detailnya apakah dari pihak kepolisian maupun pihak sekolah.

Loading...

“Tapi kalau toh karena itu, ya kita sesalkan. Karena study tour atau belajar di luar itu sebenarnya bukan program sekolah. Tapi dari pihak dinas sudah wanti-wanti bahwa study tour bukan suatu kewajiban. Manfaatnya mungkin ada, tapi kita harus melihat situasi dan kondisi saat ini,” terangnya.

Selain itu, beber dia, study tour ini harus mempertimbangkan kemampuan dari orang tua siswa. Walaupun pengakuan dari pihak sekolah bahwa biaya study tour sebesar itu adalah hasil dari musyawarah dengan pihak orang tua.

“Tapi kan tidak diharuskan semua harus ikut. Tapi kalau yang mampu silakan ikut. Kalau yang tidak mampu ya tidak usah. Kenyataannya memang tak harus ikut. Kedepan harus benar-benar dipikirkan kembali kalau mau study tour. Karena kan orang tua berbeda-beda kondisinya,” bebernya

Karena, tambah dia, kadang suka ada dalam hal study tour ini siswa yang tak mampu tapi memaksakan diri karena ingin dinilai mampu.

“Tapi ini lah permasalahannya. Ya kita imbau kepada para kepsek di semua jenjang agar hati-hati,” tambahnya.

Menurut dia, melakukan pembelajaran di luar sekolah bisa dilakukan dengan cara sederhana.

Misalnya ke tempat yang murah, dan di kita juga banyak obyek pembelajaran untuk bahan edukasi. Tapi, ini bukan berarti kami mencegah untuk study tour ke luar Tasik.

“Tapi kalau toh esensi dari kegiatan itu bisa dilakukan lebih ekonomis, bahkan zero biaya itu lebih bagus. Jadi dengan kejadian ini jadi pembelajaran kita agar mempertimbangkan sematang mungkin soal study tour,” pungkasnya.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.