Situasi Ekonomi dan Politik Buruk, Industri Alas Kaki Babak Belur

40
SALURKAN CSR. Paguyuban Perajin Alas Kaki Tasikmalaya (Prakatas) dan masyarakat di Cigantang Kecamatan Mangkubumi mendapatkan bantuan CSR dari PT Dahana, Rabu (26/12).Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya

MANGKUBUMI – Industri alas kaki (sandal) di Tasikmalaya tengah lesu. Para perajin hanya mampu menjual 1.000 alas kaki per bulan dari biasanya 2.500 per bulan.

Saat ini, mereka tengah mencari cara untuk membangkitkan usaha tersebut agar tetap bertahan.

“Penurunannya sekitar 60 persen dari biasanya,” ungkap Ketua Paguyuban Perajin Alas Kaki Tasikmalaya (Prakatas) Enjang Zaenal Mutaqin usai menghadiri peresmian Kampung Alas Kaki dan pemberian bantuan corporate social responsibility (CSR) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Dahana di Cigantang Kecamatan Mangkubumi, Rabu (26/12).

Kemerosotan usaha alas kaki itu, kata dia, akibat perekonomian Indonesia kurang baik.

Apalagi kurs dolar sedang tinggi (sekitar Rp 14.602 per USD) sehingga berdampak pada produktivitas para perajin.

“Karena sebagian ada yang bahannya dari luar (impor, Red.) atau bisa juga karena pengaruh situasi politik,” terang Enjang.

Enjang berharap bantuan CSR PT Dahana bisa menumbuhkan semangat para perajin di saat kondisi ekonomi tidak baik.

Para perajin juga berharap mendapatkan pinjaman dari bank BNI dengan agunan cukup ringan setelah bekerja sama. “Ini kebahagiaan untuk para perajin alas kaki lainnya,” tuturnya.

Direktur Keuangan dan SDM PT Dahana Drs Asmorohadi MM mengatakan CSR itu sebagai bentuk penghargaan kepada para perajin alas kaki di Tasikmalaya.

Meskipun, pihaknya berdomisili di Cirebon, sejarah mereka di Tasikmalaya tidak bisa terhapus. “Jadi mengingatkan kita semua bahwa kita punya momen di Tasikmalaya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, PT Dahana juga memberikan bantuan bak sampah, gerobak sampah, fasilitas ibadah, tempat mandi, cuci, kakus (MCK) serta santunan kepada masyarakat kurang mampu. Total dana CSR yang dikucurkan mencapai Rp 400 juta.

“Setiap tahun kita sampai Rp 2 miliar. Untuk di sini sekitar Rp 400 juta,” tutur dia. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.