Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%

Soal Kasus Penyaluran Kredit Macet, Begini Kata BTN Tasik..

107
0

SUTINA SENJAYA – Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Tasikmalaya memilih bungkam terkait kasus dugaan korupsi Penyaluran Kredit Macet dengan debitur sekitar 460 orang. Hal itu ditegaskan Bagian Umum BTN Cabang Tasik, Adi Setiawan.

Kata Adi, saat ditemui di meja kerjanya, persoalan hukum yang tengah melilit BTN Cabang Tasik ini telah ditangani pihak aparat hukum dan dari BTN sendiri kasusnya telah ditangani pihak BTN pusat.

“Saya tak berwenang berkomentar soal kasus ini,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com, Selasa (23/7).

“Pastinya di kami jika ada persoalan yang menyangkut umum langsung di-handle pihak pusat. Dan kami di daerah hanya menangani permasalahan umum saja. Jadi intinya kami di sini tak bisa berkomentar soal itu,” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasikmalaya memastikan kasus dugaan korupsi di 2018 yang telah ditanganinya seperti kasus penyaluran kredit di Bank Tabungan Negara (BTN) hingga kini masih terus diusutnya.

Hal itu ditegaskan Plt Kepala Kejari (Kajari) Kota Tasik, Alwie, Senin (22/7). Kata dia, hingga kini pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait pengungkapan kasus kredit yang diduga fiktif penyalurannya.

“Saksi dalam kasus ini diperkirana kita ada 460 orang yang merupakan debiturnya, dan kurang lebih 150 saksi sudah kita periksa,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com.

Terang dia yang ditemui didampingi Kasi Pidsus Kejari Kota Tasik, Masmudi, kasus ini memang telah berjalan ditangani pihaknya sekitar 7 bulan. Dia mengakui pengungkapan kasus ini terdapat beberapa kendala untuk mengungkapnya agar terang benderang.

“Jadi banyak debitur yang akan kita panggil jadi saksi sudah berpindah tempat alamatnya. Itu menjadi salah satu kesulitan kita mengungkapnya,” terangnya.

“Tapi kita tetap ingin progres (terus mengusutnya, Red). Jadi kalau yang bersangkutan sudah tidak ada maka kami cari melalui pemerintah setempat saat ini mereka pindahnya kemana,” sambungnya.

Dia menambahkan, hingga kini kasus ini belum bisa ditaksir berapa kerugiannya. Tetapi perdebitur yang total jumlahnya 460 orang itu mengajukan kreditnya bervariasi mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 100 juta. “Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi bisa kita ungkap dengan jelas,” tambahnya.

Mengapa demikian? karena pihaknya setiap hari memeriksa 3 orang hingga 4 orang saksi dalam kasus ini. “Kerugiannya belum kita hitung karena itu kewenangan pihak auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Jadi nanti setelah usai pemeriksaan saksi baru diajukan ke BPK untuk penghitungan kerugian keuangan negara,” jelasnya. (rez)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.