Gelar Workshop Budidaya Jamur Tiram

Stikes BTH Dongkrak Ekonomi Desa

136
0
Fatkhur Rizqi / Radar Tasikmalaya PAPARKAN. Pemateri workshop Dr Nuniek Ina Ratnaningtyas MS menjelaskan cara budidaya jamur sebagai produk agroindustri unggulan masa depan di Aula STIKes BTH Tasikmalaya Selasa (2/7).

TASIK – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas Husada (Stikes BTH) Tasikmalaya menggelar seminar dan workshop pengembangan budidaya jamur tiram terpadu di Aula STIKes BTH Tasikmalaya Selasa (2/7). Workshop ini bagian dari program pengabdian masyarakat.

Ketua Pelaksana Program Pengabdian Masyarakat STIKes BTH Tasikmalaya Khusnul MSi mengatakan workshop ini diikuti petani jamur dan 110 mahasiswa prodi D3 Analis Kesehatan. Budidaya jamur tiram dinilai menarik karena bisa menjadi lahan ekonomi baru bagi petani. Terlebih sumber daya alam di Tasikmalaya cocok untuk budidaya jamur tiram, baik skala kecil maupun besar.

Budidaya tersebut, kata ia, dapat meningkatkan perekonomian petani, di sisi lain bisa meningkatkan kesehatan masyarakat yang mengonsumsi jamur yang kaya kandungan gizi tersebut.

“Untuk itu, pada program pengabdian masyarakat ini kami membina petani jamur tiram agar produksinya lebih meningkat. Caranya dengan memberikan wawasan dan praktik budidaya jamur tiram yang baik dan benar,” ungkapnya.

Pihaknya berharap budidaya jamur tiram di Tasik bisa berkembang, sebab saat ini belum banyak petani yang mencoba budidaya jamur tiram. “Melalui budidaya jamur tiram ini dapat melahirkan wirausaha-wirausaha baru,” kata dia.

Ia menyebutkan, usaha budidaya jamur tiram ini menjanjikan karena kebutuhan pangan masyarakat terhadap jamur tinggi. Jamur bisa menjadi alternatif pengganti daging dan ikan. “Kandungan gizinya cukup lengkap,” ujar dia.

Pemateri workshop Dr Nuniek Ina Ratnaningtyas MS mengatakan budidaya jamur merupakan hasil agroindustri unggulan masa depan. Budidaya jamur memiliki prospek ekonomi yang baik. Jamur merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana.

Selain itu, konsumsi masyarakat akan jamur tiram cukup tinggi, sehingga produksi jamur mutlak diperlukan dalam skala besar. “Jamur bernilai ekonomis, dengan harga jual relatif tinggi dan stabil dibandingkan sayuran lainnya” katanya.

Lanjutnya, pengembangan usaha ini dipilih atas beberapa pertimbangan di antaranya daya serap pasar yang masih sangat tinggi dan potensial, terutama di Asia . “Di Cina minat masyarakat terhadap jamur tiram sebanyak 46 persen, sedangkan di Indonesia hanya 1,4 persen,” tambahnya.

Peserta workshop Khotib Mawahid (43) mengatakan, dengan adanya workshop ini memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai jamur tiram sehingga ia pun tertarik untuk mencoba budidaya jamur tiram.

“Peluang usahanya sangat menjanjikan. Budidayanya juga mudah dan dapat dijadikan sebagai usaha rumahan,” kata petani asal Desa Tawang Banteng Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. (mg1)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.