Stok Sembako Aman, Daya Beli Menurun

38
0
RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA DIMINTA SELFIE. Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman diminta seorang pedagang selfie saat monitoring harga di Pasar Cikurubuk bersama Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Febry Kurniawan Ma’ruf dan TPID, Kamis (13/12).

TASIK – Stok sembako untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dipastikan aman menjelang pergantian tahun. Namun demikian, daya beli masyarakat di pasar tradisional mengalami penurunan.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengecek harga di Pasar Cikurubuk, Kamis (13/12). Beberapa harga komoditas sembako di ketahui cukup stabil seperti halnya beras dan cabai rawit.

Salah satu pedagang daging sapi Nina Ratih SH (51) mengaku mengalami penurunan penjualan mencapai 40%. Padahal harga daging sapi tidak ada kenaikan signifikan. “Sejak mulud juga tetap saja di harga Rp 115 ribu, tapi penjualan enggak tahu kenapa menurun,” terangnya kepada wartawan kemarin.

Dia tidak mengerti apa penyebab menurunnya daya beli masyarakat. Bisa karena kondisi ekonomi, politik atau yang lainnya. Akan tetapi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, penurunan daya beli masyarakat terbilang cukup parah. “Saya sudah bertahun-tahun di pasar, sepertinya tahun ini paling parah,” katanya.

Hal serupa juga dikeluhkan pedagang telur, Yuyut Sopyan (42) yang mengaku ketersediaan telur cukup aman. Tetapi harga terus naik dari mulai Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Hal ini berefek kepada menurunnya daya beli masyarakat. “Yang biasanya beli satu peti jadi beli 10 kg, yang tadinya 5kg jadi beli 2kg,” ungkapnya.

Kenaikan juga terjadi pada harga daging ayam,

Salah satu pedagang Dede Wijaya (51) mengatakan harga terus merangkak dari mulai Rp 21 ribu,dalam sebulan sudah menjadi Rp 25 ribu. Tapi dirinnya tidak begitu merasakan penurunan daya beli. “Yang beli masih biasa-biasa saja, paling mengeluhkan harganya naik,” katanya.

H Budi Budiman bersyukur karena ketersediaan sembako dinilai cukup, sedangkan permasalahan harga memang tidak bisa dipungkiri. Karena Kota Tasikmalaya masih mengandalkan pasokan dari Blitar untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. “60% kita masih mengandalkan pasokan dari luar untuk telur,” terangnya.

Pemerintah, kata Budi, berupaya mendorong pengembangan peternak ayam petelur di Kota Tasikmalaya supaya bisa menekan ketergantungan dari Blitar. Terlebih dia yakin kualitas telur lokal bisa lebih bagus dan segar. “Mudah-mudahan ke depannya peternak kita mampu mencukupi kebutuhan telur untuk masyarakat,” terangnya.

Terkait menurunnya daya beli masyarakat karena harga naik, Budi menilai cukup wajar. Dia mendorong pedagang supaya tidak mematok harga yang terlalu tinggi sehingga tidak memberatkan masyarakat. “Setelah ini kita akan evaluasi bersama-sama, tapi untuk supply aman,” katanya.

Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Febry Kurniawan Ma’ruf mengaku tim Satgas Pangan akan tetap memantau ketersediaan dan keamanan pangan di wilayah hukumnya. Jika memang ada indikasi penimbunan pangan, pihaknya akan melakukan penindakan. “Kalau memang ada pidana ya kita tindak,” tegasnya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.