Stop Kerja Sama dengan Cina!, Solidaritas Tasik untuk Muslim Uighur

209
0
SOLIDARITAS. Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Aktivis Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) melakukan aksi solidaritas untuk muslimin Uighur di kawasan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jumat (27/12). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

CIHIDEUNG – Aliansi Aktivis Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) menuntut pemerintah Indonesia menghentikan kerja sama dengan pemerintah Cina. Pemutusan kerja sama itu sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah Cina yang diduga menindas muslim Uighur di Xinjiang.

Hal tersebut terungkap dalam aksi solidaritas dari massa Almumtaz untuk muslim Uighur yang dilaksanakan di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jumat (27/12). Koordinator Almumtaz Ustaz Hilmi Afwan menjelaskan, aksi itu untuk mengingatkan kembali kepada publik Tasik terkait penderitaan muslim Uighur. “Kita bisa merasakan bagaimana kesakitannya,” ujarnya.

Menurut dia, umat Islam harus melakukan langkah besar agar membuat pemerintah Indonesia dan negara lain ikut bergerak menghentikan penindasan. Bersatunya umat muslim bisa menjadi kekuatan yang menyelamatkan muslim Uighur. “Dan ini secara HAM saja sudah pelanggaran berat, apalagi secara agama,” tuturnya.

Penindasan muslim Uighur sudah berlarut-larut dengan beragam diplomasi. Namun, Hilmi menganggap pemerintah Indonesia masih diam atas kasus. Sebagai negara mayoritas muslim, Indonesia harus berani mengambil risiko untuk memutus hubungan kerja sama dengan pemerintah Cina. Hal in sebagai bentuk perlawanan atas sikap pemerintah Cina yang sadis terhadap muslim Uighur. “Atau setidaknya usir saja kedubes Cina dari Indonesia,” katanya.

Pada aksi itu tampak hadir di antaranya Ustaz Acep Lugeza dari Majelis Mujahidin dan Panglima Thaliban KH Cuncun. Mereka pun berorasi di kawasan Taman Kota.

Sebelumnya, di Hongkong pada Minggu (22/2), terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa yang turun ke jalan mendukung hak hidup etnis Uighur di Cina.

Loading...

Bentrok aktivis dengan pihak kepolisian terus memanas. Bahkan, aparat tak segan menyemprotkan cairan merica untuk memecah kerumunan demonstran. Demonstran pun balik menyerang dengan melemparkan botol kaca dan batu.

Keributan tersulut sejak siang hari. Setelah para demonstran jumlahnya kian banyak dan mengibarkan bendera serta spanduk Uighur, sebagai bagian dari demonstrasi yang terus-menerus dilakukan tanpa henti sejak enam bulan lalu.

Dalam kerumunan orang tersebut bercampur para anak muda dan orang tua, mengenakan pakaian hitam dan masker untuk menutupi identitas mereka, mengangkat poster bertuliskan “Bebaskan Uighur, Bebaskan Hong Kong” serta “Otonomi palsu di Cina hasilkan genosida”.

Unjuk rasa kali ini dilakukan setelah pemain sepak bola klub Inggris Arsenal, Mesut Ozil, menyebabkan gaduh di Cina karena mengkritik kebijakan pemerintah terhadap etnis minoritas Muslim di wilayah Xinjiang itu.

Ozil, yang merupakan warga muslim Jerman asal Turki, menulis cuitan yang menyebut orang-orang Uighur merupakan “pejuang yang tahan terhadap persekusi”, dan mengkritik kekuatan Cina di Xinjiang serta bagaimana sesama Muslim diam dalam merespons hal itu.

Maidy, warga distrik New Territories barat laut Tin Shui Wai menegaskan, pemerintah Cina harus merealisasikan 5 tuntutan aktivis dalam hal ekstradisi. “Kasus etnis minoritas muslim Uighur bagian dari cermin kekuasaan Cina yang terlalu absolute. Tidak mau dikritik dan diktator. Kami akan terus melawan tanpa mempertimbangkan apa pun selain kebebasan berpendapat, dan hidup yang lebih baik,” ujarnya kepada AFP.

Sementara itu, seorang demonstran berusia 41 tahun dengan nama marga Wong mengatakan, rasa kebebasan dasar dan kemerdekaan harus ada untuk semua orang, bukan hanya Hongkong. “Kami ingin merdeka, merdeka dengan hak manusia. Kami pun tak akan pernah bosan menyuarakan kebebasan untuk kawan kami kelompok muslim Uighur,” singkatnya.

Pakar dan aktivis dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut setidaknya ada satu juta orang Uighur dan anggota etnis muslim lainnya tertahan di kamp di Xinjiang sejak 2017 di bawah kampanye pemerintah. Pemerintah Cina menyatakan penahanan di kamp itu sebagai masa pelatihan kejuruan untuk membantu menghentikan separatisme serta mengajarkan keterampilan baru dan membantah perlakuan salah terhadap Uighur, yang bagaimanapun dikutuk oleh banyak negara. (rga/fin/ful)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.