Stop Stunting dengan Mengawal 1.000 HPK

99
0
Istimewa PELATIHAN. Dosen Kebidanan Fikes Umtas Melsa Sagita Imaniar SST MKeb (duduk, tengah) dan rekan berfoto usai pelatihan kader dan ibu hamil di Pustu Cibunigeulis, Kamis-Jumat (26-27/11).
Loading...

TASIK – Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pustu Cibunigeulis Kota Tasikmalaya, Kamis-Jumat (26-27/11).

Bentuk kegiatannya yakni pelatihan bagi kader dan ibu hamil dalam mengawal 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan mencegah stunting. Kegiatan dilakukan dengan memenuhi syarat protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Pengabdian kepada masyarakat ini diinisiasi oleh Melsa Sagita Imaniar SST MKeb, Sri Wahyuni Sundari SST MKeb dan Rissa Nuryuniarti SST MHKes. Serta diketahui oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Umtas Sri Mulyanti MKep ners dan Ketua LPPM Dr Mujiarto MT.

Dosen Kebidanan Fikes Umtas Melsa Sagita Imaniar SST MKeb mengatakan, stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita 1 dari 4 balita di Indonesia.

Stunting merupakan kondisi di mana balita memiliki panjang atau tinggi badan kurang jika dibandingkan dengan umur.

loading...

“Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutama pada saat 1.000 HPK,” kata Melsa yang juga Konselor Halobid PC IBI Tasikmalaya.

Misalnya saja di Puskesmas Bungursari tahun 2019 memiliki balita stunting sejumlah 192 balita.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut memerlukan adanya kegiatan yang dapat meningkatkan peran dan pengetahuan kader posyandu serta peningkatan pengetahuan ibu hamil terutama dalam strategi 1.000 HPK upaya pencegahan stunting.

“Pencegahan stunting penting dipahami oleh kader sebagai lini terdepan pada sasaran kesehatan ibu dan anak,” katanya.

pelatihan praktik simulasi 1.000 HPK pada ibu hamil meliputi penyuluhan dan pendampingan ASI Eksklusif dan pengolahan MP-ASI oleh kader.

“Peserta dilakukan terlebih dahulu pre tes untuk mengukur pengetahuan mengenai 1.000 HPK, kemudian secara sistematis diberikan materi dan praktik simulasi pelatihan 1.000 HPK,” katanya.

Bentuk pelatihan bersifat aktif, sehingga kader dan ibu hamil langsung mempraktikan setelah diberikan paparan materi.

Salah satunya bagaimana praktik posisi dan perlekatan dalam menyusui sehingga pada saatnya nanti ibu bersalin dapat segera menyusui pada bayinya dan berhasil pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.

“Kemudian peserta terlibat dalam pengolahan langsung MP-ASI setelah diberikan paparan narasumber. Selesai pelatihan dilakukan post tes, dan hasilnya terjadi peningkatan skor mengenai 1.000 HPK dari peserta kader dan ibu hamil,” ujar Founder Aplikasi Golden1000 dan Konselor Menyusui (Lisensi Perinasia) ini.

Dengan melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen dan mahasiswa, diharapkan dapat membantu mengurangi beban puskesmas dan masyarakat Bungursari dalam upaya meningkatkan status gizi ibu hamil, bayi, anak dan balita.

Kader yang mengikuti pelatihan dapat melakukan transfer ilmu hasil pelatihan kepada kader lain yang berjumlah 104 orang, sehingga semua kader Puskesmas Bungursari tersosialisasi tentang 1.000 HPK untuk mencegah stunting.

“Sehingga kejadian stunting di wilayah kerja puskesmas Bungursari dapat dicegah,” harap Melsa yang juga penulis buku Menyusui dengan Hati dan Ilmu. (rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.