Stres Bisa Picu Sariawan

237
0
JENIS SARIAWAN. Drg Mega Rafika SpPM menunjukkan bentuk sariawan yang biasa dialami oleh pasien di kliniknya Jalan Parunglesang Kota Banjar Sabtu (6/7). Sariawan bisa disebabkan banyak faktor, salah satunya stres.

BANJAR – Sariawan atau stomatitis adalah istilah yang digunakan saat kondisi mulut mengalami peradangan. Penyakit ini kerap dialami semua orang.

Walaupun sering dianggap penyakit sepele, namun sariawan dapat menghambat aktivitas seseorang untuk makan, berbicara dan tidur.

Dokter Spesialis Penyakit Mulut drg Mega Rafika SpPM mengatakan sariawan mengakibatkan luka kecil pada jaringan lunak dalam mulut, bibir, pipi bagian dalam, langit-langit, maupun lidah. Dengan bentuk bulat dan terdapat bintik-bintik kecil putih di dalamnya.

“Penyakit sariawan ini paling banyak dialami oleh wanita daripada pria. Sebab wanita itu mudah stres, sehingga memicu sariawan,” ujarnya saat diwawancara di kliniknya Jalan Parunglesang Kota Banjar Sabtu (6/7).

Ia menjelaskan, stres menyebabkan perubahan tubuh dalam mengatur beberapa komponen mulut seperti produksi air liur yang berperan sebagai sistem pertahanan rongga mulut.

Stres juga meningkatkan risiko terjadinya lesi dan infeksi pada dinding mulut dan gusi. Hal ini juga ditemukan pada suatu studi yang menunjukkan bahwa stres dapat menjadi permulaan berkembangnya penyakit, serta memicu penurunan kesadaran untuk menjaga kesehatan mulut.

“Sebagian besar orang mengira sariawan disebabkan kekurangan vitamin C. Anggapan ini tak sepenuhnya salah. Namun ada penyebab lain seperti stres karena akan memacu asam lambung sehingga mukosa di mulut menjadi bereaksi dan rusak,” katanya.

Kebiasaan buruk saat stres juga memicu munculnya sariawan di mulut. Misalnya seperti menggigit bibir, makan-makanan berlemak dan pedas. Hal ini bisa menyebabkan iritasi di mulut sehingga lesi bermunculan.

Lanjutnya, sariawan juga dipicu oleh multi faktor diantaranya genetik, kelelahan, hormonal, anemia, gangguan imunitas, defisiensi nutrisi hingga kurangnya vitamin B12, vitamin C dan zat besi.

“Tubuh memerlukan berbagai macam asupan nutrisi yang cukup agar bisa terhindar dari serangan penyakit. Untuk itu makan buah-buahan, sayur-sayuran, menu makan gizi seimbang dan olahraga yang rutin,” katanya.

Dia menjelaskan, sariawan bisa dibedakan dalam beberapa kategori yakni Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) Minor, Mayor dan Herpetiform. SAR Minor memiliki ukuran kurang dari 1 cm, proses penyembuhan berkisar dari 7 hingga 14 hari.

SAR Mayor memiliki ukuran lebih dari 1 cm dan jika dibiarkan kela­maan bisa membesar bentuknya. “Biasanya disangka kanker mulut tapi bukan,” tegasnya.

Proses penyembuhan pada SAR Mayor terbilang cukup lama, sekitar 2 minggu hingga 3 bulan. Namun tergantung dari bagaimana cara penanganannya. Jika dibiarkan akan membesar dan lama sembuhnya.

“Mesti dibawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Sehingga bisa dibedakan, karena tidak bisa dikira-kira,” ujarnya.

Sementara, sariawan Herpetiform memiliki bentuk yang kecil dengan ukuran antara 1-2 milimeter. Jenis ini sama halnya seperti SAR Minor bisa cepat sembuh, karena ukurannya tidak terlalu besar.

Untuk penanganannya, kata Mega, harus melihat eteologi yang menimbulkan sariawan. Apakah dari faktor kelelahan, stres, menstruasi atau faktor lainnya.

Karena sariawan juga bisa disebabkan oleh panas dalam, usai mengkonsumsi makanan yang berlemak, pedas atau berminyak.

“Lebih jelasnya mesti dibawa ke dokter gigi spesialis penyakit mulut. Kalau sekadar minum obat sariawan tanpa mengetahui jenis sariawannya bisa jadi sembuhnya lama dan kronis,” jelasnya. (nto)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.