Sudah Nikah, Selingkuh Hanya Kesenangan

376
0

MANGKUBUMI – Berdasarkan data hasil razia penyakit masyarakat (pekat) yang dilaksanakan Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP-Damkar) Kota Tasikmalaya, ada 50 pasang yang berhasil diciduk. Dari 50 pasang itu sebanyak 36 pasang di antaranya merupakan orang yang sudah menikah yang berduaan di kamar hotel bersama non muhrim.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat (Tibum-Tranmas) Dinas Satpol PP-Damkar Kota Tasikmalaya Yogi Subarkah menyebutkan, pihaknya banyak menemukan ada pasangan yang diduga selingkuh. Kebanyakan yang sudah berstatus menikah adalah prianya. “Tapi ada juga beberapa perempuan bersuami yang kena razia bersama pria lain,” tuturnya.

Sebagian di antara mereka berdalih sedang proses cerai dengan pasangan resminya. Namun, ada juga yang mengaku blak-blakan selingkuh karena hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. “Ada yang karena ekonomi, atau kurang akur dengan suami atau istrinya,” ujarnya.

Namun demikian, pasangan selingkuh yang terjaring razia tidak hanya warga Kota Tasikmalaya saja. Beberapa di antaranya merupakan warga luar daerah yang sengaja datang ke Kota Tasikmalaya.

Hal itu pernah terungkap ketika seorang pemuda asal Bandung membawa perempuan dari Garut. Dalam pemeriksaan terungkap bahwa perempuan yang dibawanya itu sudah memiliki suami.

Ada pun tindakan yang dilakukan Satpol PP adalah melakukan pembinaan kepada mereka. Ada juga yang berlanjut kepada proses sidang tindak pidana ringan (tipiring) ke Pengadilan Negeri.

Psikolog Tasikmalaya Rikha Surtika D MPsi menerangkan bahwa perselingkuhan bukan lagi dilatarbelakangi permasalahan rumah tangga. Saat ini ada pergeseran fenomena perselingkuhan hanya karena untuk kesenangan. “Tapi yang karena have fun itu kebanyakan di kota-kota,” tutur dia.

Dia pun pernah memiliki klien dengan kasus perselingkuhan dengan alasan kesenangan. Padahal hubungan dengan istrinya pun tidak ada masalah. Perselingkuhan itu dijalani bukan karena ada kekurangan dari istrinya. “Awalnya karena sering ketemu, main bareng akhirnya begitu (selingkuh),” katanya.

Di era digital, potensi untuk seseorang melakukan perselingkuhan pun semakin besar. Pasalnya, dengan media sosial, seseorang bisa berkomunikasi dengan orang baru atau kenalan-kenalan lama. “Kalau bahasa anak muda banyak SSI (Speak-Speak Iblis) juga di medsos,” ujarnya.

Hal itu juga pernah dialami oleh salah seorang klien Rikha yang terlibat perselingkuhan dengan adik mantan kekasihnya. Hal itu bermula di media sosial, berujung pertemuan dan kedekatan yang istimewa. “Awalnya karena chating-chating, karena mereka sebelumnya sudah pernah ketemu,” katanya.

Menurut Rikha, untuk mencegah perselingkuhan yakni dengan mengenali dan menyadari kelemahan diri sendiri. Ketika memang seorang suami atau istri mudah tergoda oleh lawan jenis maka harus ada pembatasan komunikasi. “Tetap kembali kepada diri sendiri harus bisa sadar diri,” tutur dia.

Kasus perselingkuhan tidak hanya terjaring Satpol PP. Satuan Sabhara Polres Tasikmalaya pun pernah menjaring pasangan non muhrim di mana si pria sudah memiliki istri.

Hal itu terungkap saat razia kepolisian tepat 21 Maret 2018 di mana seorang pria asal Singaparna berinisial LP (33) yang tengah bercumbu dengan selingkuhannya berinisial RK (21) di salah satu hotel di Kecamatan Mangkubumi.

LP mengaku bahwa dirinya sudah menikah. Hubungannya dengan RK hanya sebatas pacaran saja. Saat ditanya tempat tinggal, dia menjawab plin-plan. Awalnya mengaku dari Cibeureum, lalu saat ditanya lagi jadi Singaparna. “Maksudnya sudah pindah,” tutur dia kepada Radar.

LP merupakan seorang wirausaha di bidang konveksi yang berlokasi di Bandung, tempat tinggal istrinya. Dia sengaja datang ke Tasikmalaya hanya untuk menemui RK dan mengajaknya bercumbu di hotel. “Sekarang tinggal di Bandung, ke sini hanya ketemu (RK) saja,” terang ayah dua anak itu. (rga)

Video Pilihan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.