Sudah Siapkah Pendidikan Kita Menyongsong Era Globalisasi?

496
0
Loading...

DALAM ASEAN Vision 2020 sebagai bentuk integrasi ekonomi, yaitu ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang diberlakukan Desember 2015.

GUNA menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) Pemerintah Indonesia dituntut mengembangkan berbagai sektor melalui strategi atau langkah yang tepat sehingga mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN. Strategi ditempuh melalui:

1. Menciptakan daya saing ekonomi dan penciptaan produk berkualitas.
2. Membentuk program “Aku Cinta Indonesia”.
3. Peningkatan sektor UMKM.
4. Perbaikan infrastuktur.
5. Peningkatan sumber daya manusia.
6. Reformasi kelembagaan kepemerintahan.

Memperhatikan blue print poin no 5 “peningkatan kualitas sumber daya manusia”, sepertinya bangsa kita semakin jauh tertinggal dengan negara-negara ASEAN. Menilik dari bidang pendidikan, negara-negara ASEAN lain lebih awal mempersiapkan model pendidikan 10 tahun sebelum diberlakukannya MEA tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari struktur pendidikan di negara-negara ASEAN. Kita ambil contoh 2 negara yaitu Thailand dan Singapura. Di Thailand dikenal adanya sentralisasi dan desentralisasi pendidikan melalui mata pelajaran yang diatur oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Mata pelajaran yang diatur secara sentralisasi oleh pemerintah pusat hanya menjadi 4 mata pelajaran yaitu:

1. Bahasa Thailand.
2. Matematika.
3. Ilmu Pengetahuan Umum.
4. Ilmu Sosial dan Agama.

loading...

Sedangkan mata pelajaran yang didesentralisasikan yang diatur sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dimulai dari jenjang kelas 1-9 pendidikan dasar yaitu terbagi menjadi:

1. Health & Physical Science
2. Professional Works & Technology
3. Foreign Language and
4. Arts

Dua mata pelajaran di atas yaitu Foreign Language dan Professional Works & Technology sepertinya dipersiapkan untuk menghadapi tantangan masyarakat ASEAN. Dengan mempelajari bahasa asing seperti Bahasa Jerman, Mandarin, Melayu, Jepang dan termasuk Bahasa Indonesia merupakan pintu masuk untuk bergaul dengan negara-negara ASEAN. Bahasa tersebut diperkenalkan semenjak masih duduk dibangku kelas 1 SD. Sehingga dengan belajar selama 12 tahun para pelajar dapat memetik hasil dari pengembangan kurikulum struktur pendidikan melalui mata pelajaran bahasa asing.

Kurikulum mata pelajaran pendidikan di Thailand tersebut diatur pada “Curriculum Practical of Compulsory Education Usage BC 2544 (2001)”. Saat ini siswa yang dulu masuk belajar kelas 1 SD pada tahun 2001 sekarang sudah lulus dan memiliki kemampuan bahasa asing yang fasih. Intinya, para siswa sudah dibekali dengan kemampuan berbahasa asing agar dapat bersaing dengan tenaga kerja asing.

Sementara itu, mata pelajaran Pro­fessional Works & Techno­logy sudah di­per­kenal­kan semen­jak masih duduk di bangku sekolah dasar. Hal tersebut tidak diartikan bahwa anak harus bekerja semenjak dini namun dimaksudkan sebagai bekal agar ketika dewasa nanti masuk dalam dunia kerja, sifat dan karakteristik seperti jujur, bertanggung-jawab, berkompetisi, memiliki perilaku yang baik (well-mannered) dan lain sebagainya.

Dalam aspek teknologi, anak sudah diperkenalkan Science and Technology. Sebagai contoh, bayangkan anak kelas 1 SD ketika anak memegang balon dan balon tersebut meletus, si anak mungkin hanya bersikap kaget atau menangis. Tetapi di sana mereka diajari tentang ilmu sains yaitu menganalisis apa yang menyebabkan balon tersebut meledak.

Selanjutnya kita bandingkan dengan model kurikulum pendidikan negara Singapura. Metode pendekatan kurikulumnya dengan model bahasa ibu. Singapura diuntungkan dengan pluralistic suku bangsa yang beragam seperti Melayu, Chinese, Eropa, Indian dsb. Dan keanekaragaman bahasa tersebut dikembangkan sehingga pelajar Singapura memiliki kemampuan berbagai bahasa dan para pelajar yang berbahasa ibu diapresiasi oleh Negara.

Dari pengalaman tersebut, sebenarnya di negeri tercinta ini sudah dikembangkan bahasa asing di beberapa sekolah dasar. Namun dengan kebijakan tertentu mata pelajaran bahasa asing tersebut dihilangkan dari kurikulum pendidikan sekolah dasar.

Kesimpulannya, untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN daya saing di bidang pendidikan dengan peningkatan kemampuan berbahasa asing yang didukung dengan keterampilan kerja. Selanjutnya perlu diperhatikan pula selama ini aturan desentralisasi hanya meliputi kenaikan pangkat, perihal gaji, sarana dan prasarana saja. Tetapi kenapa tidak dikembangkan struktur kurikulum muatan lokal yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.

Setidaknya apabila ada daerah yang berada dekat dengan pesisir pantai akan mengembangkan potensi maritim atau kelautan, daerah dengan tempat wisata dapat mengembangkan bidang kepariwisataan, daerah dengan potensi pertanian dapat mengembangkan potensi sumber dayanya dan daerah lain dengan berbagai potensinya. Namun saat ini semua struktur kurikulum sama dari Sabang sampai Merauke. Padahal di lapangan, potensi sumber daya alam, tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan justru berbeda-beda setiap daerahnya. Sehingga disinilah perlu adanya desentralisasi kurikulum lokal. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.