Sulit Mencapai 80 Persen Partisipasi Pilgub

KOMPAK. KPU Kabupaten Pangandaran berfoto bersama para jurnalis Pangandaran, Selasa (13/3).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

PARIGI – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pangandaran menyebutkan ada beberapa faktor yang memengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. Yakni informasi tak tersampaikan, kepentingan politik personal dan kendala teknis.

Anggota Divisi Teknis KPU Kabupaten Pangandaran Muhammad Habib memberi contoh bahwa masalah politik bisa memengaruhi partisipasi pemilu. Di mana masyarakat yang merasa menjadi korban politik lebih memilih golput atau tidak memilih. “Misalkan calon sebelumnya kalah dan ia memutuskan untuk tidak memilih pada pilkada selanjutnya,” tuturnya usai sosialisasi Pilgub di Kantor Desa Karangbenda Kecamatan Parigi, Selasa (13/3).

Untuk masalah teknis, terang dia, contohnya soal masyarakat yang belum melakukan perekaman e-KTP. Padahal, sudah memiliki hak suara. “Misalkan usianya sudah 17 tahun. Tapi kendalanya ia tinggal di luar kota atau lebih jauhnya di luar negeri. Sehingga untuk melakukan perekaman pun sulit. Padahal e-KTP menjadi salah satu syarat untuk memberikan hak suara,” ujarnya.

Ia mencontohkan pada Pilkada Pangandaran 2015. Setidaknya ada 50 ribu orang yang tinggal di luar Pangandaran dan tidak memberikan hak suaranya. “Tapi saat itu kita menjadi terbaik ketiga se-Jawa Barat untuk partisipasi pemilih. Angkanya sampai 77,94 persen,” terangnya.

Untuk mencapai angka partisipasi hingga 80 persen, kata dia, memang agak berat. Akan tetapi, pihaknya terus berusaha untuk menyosialisasikan pilgub ke berbagai lapisan masyarakat. “Dari mulai pemilih pemula, ormas, dan lain-lain,” jelasnya.

Kabid Pelayanan Pendaftaran Penduduk (P3) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pangandaran Tatang Sunarya mengatakan saat ini ada 3.852 belum melakukan perekaman. “Padaherang paling banyak. Ada 813 lagi yang belum merekam,” tuturnya.

Menurutnya, mereka yang belum melakukan perekaman E-KTP memang kebanyakan adalah perantau. “Ada siswa atau mahasiswa rantau. Juga ada yang sedang bekerja di luar Pangandaran,” terangnya.

Untuk pemilih pemula, mereka bahkan sudah dua kali putaran melakukan jemput bola ke sekolah. “Tapi memang susah. Kalau di desa juga paling 50 persennya yang datang” jelasnya. (den)

loading...