Suriah Luluh Lantak

30
FOTO: AFP  KORBAN BERTAMBAH. Serangan pasukan Syria dan sekutunya Rusia di Idlib. Suriah setiap hari memakan korban belasan hingga puluhan orang akibat bom-bom yang dijatuhkan dari udara. Tujuh di antara korban tewas adalah anak-anak Rabu (12/6).

IDLIB – Kota-kota di Idlib, Suriah mulai luluh lantak. Serangan pasukan Syria dan sekutunya, Rusia, setiap hari memakan korban belasan hingga puluhan orang. Sejak kemarin (12/6) setidaknya 25 penduduk sipil harus kehilangan nyawa akibat bom-bom yang dijatuhkan dari udara.

Tujuh diantara koban tewas adalah anak-anak.

“Sebanyak 13 korban tewas berasal dari Desa Jabala,” bunyi pernyataan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) seperti dikutip AFP, kemarin.

Jet-jet Sukhoi milik Rusia-lah yang menjatuhkan bom di desa tersebut. Sebanyak 12 lainnya adalah korban serangan di Khan Sheikhoun, Kafr Battikh, dan beberapa desa lainnya. Pasukan Rusia juga membombardir kota-kota di Provinsi Hama. Seperti sebelumnya, bom-bom itu sengaja dijatuhkan di ladang, pasar, dan permukiman penduduk.

Serangan yang dilakukan rezim Presiden Bashar Al Assad tersebut sejatinya melanggar kesepakatan yang dicapai September tahun lalu antara Turki, Rusia, dan Syria. Yaitu, wilayah Idlib, Hama, Latakia, dan Aleppo seharusnya menjadi zona netral dan tidak boleh diserang. Area itu merupakan wilayah kekuasaan oposisi. Metode penyerangan yang dilakukan Assad saat ini serupa dengan yang dilakukannya sejak awal perang Syria. Yaitu, menyerang penduduk sipil dengan membabi buta. Bom barel juga tetap digunakan dengan intensif. Akibatnya, jumlah korban jiwa dan luka kian membengkak.

“Semua menjadi target pengeboman. Mulai toko roti, rumah sakit, hingga pasar. Semuanya. Tujuannya adalah menghentikan pelayanan kepada penduduk sipil,” ujar dokter bedah Wasel Aljirk. Rumah sakit tempatnya bekerja kini rata dengan tanah setelah dibom pemerintah Syria.

Sejak serangan dilakukan secara intensif akhir April lalu, setidaknya ada 24 fasilitas kesehatan yang dijatuhi bom oleh pasukan Rusia dan Syria. Belasan lainnya ikut tutup karena takut menjadi sasaran serangan.

Al-Jazeera mengungkapkan total korban tewas sudah mencapai 1.500 orang dan separonya adalah penduduk sipil. Bom yang dijatuhkan setiap hari membuat trauma anak-anak di Idlib dan sekitarnya. Begitu ada pesawat lewat, mereka langsung menjerit dan berlarian.

PBB menerangkan lebih dari 300 ribu orang sudah melarikan diri ke area dekat perbatasan dengan Turki. Mereka bergabung dengan para pengungsi lain yang melarikan diri lebih dulu.

Salah satu tujuan mereka adalah Kota Atmeh di dekat pintu perlintasan Bab Al Hawa. Di area itu ada sekitar 800 ribu pengungsi dari berbagai wilayah di Syria. Mereka berlindung dan membangun tenda di bawah pohon-pohon zaitun. Tak ada toilet umum atau air bersih yang mencukupi. Mereka harus menunggu hingga malam hari dan berjalan jauh dari tenda pengungsian jika ingin buang air.

Koordinator Kemanusiaan Regional PBB untuk Krisis Syria Panos Moumtzis menegaskan bahwa serangan Syria di Idlib dan sekitarnya berpeluang membuat sekitar 2 juta penduduk mengungsi ke Turki. Jika itu terjadi, bakal tercipta krisis kemanusiaan yang baru. Sebab, saat ini pun Turki sudah menampung sekitar 4 juta pengungsi. Sekitar 3,6 juta di antaranya adalah warga Syria. “Ini adalah bencana. Demi kemanusiaan, harus ada intervensi (untuk mencegah hal tersebut terjadi),” tegasnya.

Sementara itu, Rusia menampik tudingan bahwa mereka melanggar kesepakatan perjanjian damai dan sengaja menyerang penduduk sipil. Versi Moskow, mereka hanya memburu militan yang terinspirasi Al-Qaeda, Jabhat Al Nusra. Merekalah yang lebih dulu menyerang area yang dikuasai pemerintah Syria dan pangkalan militer Syria di Hmeymim dengan roket.

Negeri Beruang Merah tersebut juga menuding Turki telah gagal menjaga kesepakatan. Seharusnya Turki berperan aktif untuk menghalau kelompok militan itu dan memisahkannya dari oposisi. Selama ini oposisi Syria didukung Turki dan AS. “Tentara Rusia dan Syria akan merespons setiap serangan teroris di Idlib dengan pembalasan yang mematikan,” tegas Menlu Rusia Sergey Lavrov. (sha/ful)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.