Survei LSI, Pasangan HY Unggul

769
0
Loading...

CIAMIS – Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Fadli Fahmi Fauzan mengatakan pihaknya telah melakukan survei terhadap pasangan calon bupati dan wakil bupati Ciamis di Pilkada serentak 2018. Survei dilakukan tanggal 3-7 Mei 2018, menggunakan metode multi stage random sampling, dengan jumlah responden 440 orang. Survei dilakukan dengan dengan wawancara tatap muka dan kuesioner. Margin of error-nya plus minus 4,8 persen.

Pelaksanaan survei dikawal dengan dua mekanisme pengawasan quality control. Yakni oleh saksi yang melakukan pemeriksaan tim survei, serta responden. Mekanisme pengawasan kedua adalah spotcheck yang merupakan penerjunan tim survei.

“Makanya menghasilkan HY (Herdiat-Yana) 52,3 persen menang, atau dikata lain unggul 16,6 persen. Sementara Idola (Iing dan Oih Lanjutkan) 35,7 persen. Yang belum memutuskan atau tidak menjawab 12,0 persen (responden),” paparnya saat menggelar jumpa pers di lantai atas Samudra Catering, Jalan Jenderal Sudirman Kabupaten Ciamis Minggu (13/5).

Fadli menjelaskan hasil penelitiannya telah dirangkum dan bisa dipertanggungjawabkan. Dari survei diketahui ada tujuh poin alasan naiknya elektabilitas pasangan HY secara signifikan. Diantaranya asyarakat menginginkan tampilnya pemimpin baru.

Keinginan pemimpin baru muncul dikarenakan adanya persoalan publik yang penting, tapi belum terselesaikan dan kurangnya lapangan pekerjaan di Ciamis. Masyarakat juga mengeluhkan belum meratanya pembangunan infrastruktur, serta persoalan-persoalan.

loading...

Menurutnya, kenaikan elektabilitas HY adalah fakta dari hasil survei bahwa kemampuan calon bupati dalam memecahkan masalah, menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat Kabupaten Ciamis dalam menentukan pilihan. Pasangan Herdiat-Yana dianggap sebagai calon yang mampu memenuhi keinginan tersebut.

LSI juga mendapatkan data bahwa 73,9 persen pemilih menginginkan bupati dengan pendidikan tinggi. Calon Bupati Ciamis Herdiat Sunarnya adalah calon penyandang gelar doktor. Hal itu mendongkrak elektabilitas HY. “Tentunya banyak yang lainnya lagi yang bisa mendongkrak elektabilitas HY,” tuturnya.

Penunjang lain kenaikkan elektabilitas HY, kata dia, adalah adanya pemilih militansi. Dari survei diketahui bahwa HY memiliki 44,8 persen strong voter. Sedangkan Idola memiliki 31,6 strong voter. Sementara swing voter atau suara mengambang di masyarakat berada di angka 23,6 persen. Perhitungan strong voter dikalikan dengan jumlah total pendukung, dikurangi swing voter atau pemilih yang masih ragu.

Mengenai perebutan swing voter sebanyak 23,6 persen, dia menyebutkan hal itu masih memungkinkan walaupun dirasa akan sulit. Sebab, hal tersebut berkaitan dengan tingkat partisipasi pemilih yang biasanya berada di angka 70 persen. Hal lainnya, swing voter yang 23,6 persen bukan merupakan pemilih yang belum menentukan pilihan. Mereka adalah kalangan yang diprediksi tidak bisa atau tidak mau datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Namun bila dilakukan upaya yang kuat, masih ada kemungkinan swing voter tersebut bisa berpartisipasi ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya.

“Saya kira bisa menjadikan peluang bagi kedua calon untuk berebut suara yang memang suara mengambang tersebut. Hal itu bisa terjadi,” paparnya.

Dia menegaskan hasil penelitian LSI itu masih bisa berubah, sampai nanti saat pemungutan suara. Namun hasil penelitian tersebut tetap bisa dipertanggungjawabkan.
“Karena hasil penelitian yang dilakukan tim LSI sebelum-sebelumnya (telah) terbukti,” tegasnya. (isr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.