Swasembada Bawang Putih 2021

40

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan swasembada bawang putih akan terjadi pada tahun 2021. Untuk mewujudkan itu, Kementan masih terus melakukan perluasan pertanaman bawang putih.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi mengatakan, bawang putih memiliki perbedaan pola dalam produksi dan pemenuhan dalam negeri dibandingkan komoditas lainnya.

“Konsep (bawang putih) beda dengan yang lain. Kalau yang lain kan produksi dalam negeri naik, impornya dikurangi setiap tahunnya. Kalau bawang putih, impor sesuai kebutuhan konsumsi semua. Karena yang diproduksi dalam negeri diproses menjadi benih sampai nanti di tahun 2021,” ujar Suwandi Selasa (21/5).

Dengan swasembada bawang putih, selain menghilangkan ketergantungan dengan negara lain, akan meningkatkan pasokan dan harga yang relatif stabil.

“Jadi, hingga nanti tahun 2021, kita perkuat dan perbanyak benih untuk kebutuhan di dalam negeri,” ucap Suwandi.

Lanjut Suwandi, Kementan telah menghitung untuk kebutuhan 2021, yakni luas tanam 100 ribu hektar untuk pemenuhan kebutuhan benih dan konsumsi. “Kurang lebih 60 ribu hektar saja untuk kebutuhan konsumsi,” kata Suwandi.

Suwandi menjelaskan, langkah tersebut telah dilakukan oleh berbagai pihak, mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, importir hingga petani bawang putih.

“Kita lakukan secara bertahap dari tahun ke tahun. Saat ini sudah ada di 80 kabupaten dan berkembang menjadi 110 kabupaten se-Indonesia,” tutur Suwandi.

Rintisan swasembada tersebut dimulai pada tahun 2017 dengan luas pertanaman 1.900-an hektar. Semua hasil panen dijadikan benih untuk ditanam tahun 2018. Sedangkan pada tahun 2018, ditargetkan pertanaman di 11 ribu hektar.

“Hasil pertanaman 2018 kemudian dijadikan benih untuk pertanaman 2019 di lahan seluas 20-30 ribu hektar,” ujar Suwandi.

Kemudian hasil pertanaman di tahun 2019 digunakan sebagai benih untuk pertanaman di tahun 2020 mendatang dengan target luasan mencapai 60-80 ribu hektar. “Kelebihan benih dalam negeri dibandingkan benih impor, aroma bawang putih lokal lebih kuat,” ucap Suwandi.

Kalkulasi pemerintah pada tahun 2021 dengan luasan mencapai 100 ribu hektar dan produktivitas rata-rata nasional mencapai 6 ton/hektar, maka kebutuhan benih dan bawang putih konsumsi sudah bisa dipenuhi di dalam negeri.

“Di tahun 2021 nanti swasembada, importir nanti statusnya menjadi pelaku usaha yang bermitra dengan petani sehingga ada keberlanjutan usaha. Nanti impor ditutup, setiap yang ditanam pastinya akan habis diserap pasar,” tutur Suwandi.

Selain itu, kata Suwandi, langkah lain yang dilakukan Kementan adalah mengajak pelaku usaha, yakni importir untuk ikut menanam bawang putih sebagai konsekuensi dan prasyarat terbitnya Rekomendasi Importasi Produk Hortikultura (RIPH). Importir wajib tanam bawang putih minimal 5 persen dari volume pengajuan RIPH.

“Pendanaan untuk pertanaman bawang putih terbagi tiga yaitu dari APBN, Wajib Tanam (importir) dan Swadaya. Kebanyakan petani bermitra dengan importir minimal 5 persen dari wajib tanam dan berproduksi,” kata Suwandi.

Peneliti pertanian Juli Yulianto mengatakan, langkah Kementan sudah benar guna mendongkrak produksi bawang putih melakukan perluasan lahan. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.