Kisah Sandi Widodo mendirikan Pusat Penghilangan Tato Gratis

Syaratnya Hapal 50 Ayat Dalam Satu Surah Alquran

13
KHANIF LUTFI / FIN SEMANGAT HIJRAH. Sandi Widodo (kiri) saat mengikuti sebuah pengajian di Jakarta, Jumat (11/1). Aktivitas di ruang operasi Tato Hijrah Removal.

Sebuah pusat penghilangan tato gratis bernama Tato Hijrah Removal digagas Sandi Widodo. Dibangun lewat semangat hijrah, Sandi meng­ajak kawan-kawannya me­nyentuh kembali sisi religi agar kembali ke jalan yang benar.

KHANIF LUTFI, Kota Tangsel

Wajah Arifin (40) meringis kesakitan saat sinar laser hijau ditembakkan ke punggungnya. Sesekali ia berteriak menahan pedih. Butuh tekad yang besar bagi pria asal Karawang, Jawa Barat ini memutuskan menghapus tato bergambar wanita berbikini bertinta hitam tersebut. Sebab, menghapus tato tidak semudah memutuskan untuk menato dirinya. “Ini dulu rencananya gambar mantan pacar saya dulu, sekarang sudah jadi istri saya” kelakar Arifin saat wartawan menanyakan sosok wanita tersebut.

Arifin merupakan satu diantara belasan pasien pusat penghilangan tato Hijrah Removal di Perumahan Ciater Permai Blok A4 No 10, Jalan Ciater Raya, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, Banten, Jumat (11/1).

Ia diantar oleh sepupunya yang kebetulan bekerja di Bintaro, Tangsel. Penghapusan tato miliknya yang berukuran 6 x 5 cm berlangsung selama 30 menit. Sekitar 10 sampai 15 tembakan laser berhasil memburamkan tinta permanen tato tersebut.

Nafas Arifin naik turun usai ia diberitahu bahwa proses penghapusan tatonya selesai. Keringat mengucur di dahinya. Kaos yang dipakainya jadi handuk keringatnya. “Rasanya kayak disilet,” tuturnya sembari duduk di ruang pasien. Ada perasaan malu dan gundah saat ia harus memutuskan menghapus tatonya.

Niat awal Arifin menghapus tatonya datang dari anak sulungnya. Suatu hari, sang anak menjelaskan tato bukan ajaran Nabi Muhammad SAW. “Jadi pas saya habis mandi, anak saya melihat dan menanyakan ini, dia pun ngasih tahu, ini nggak boleh dalam Islam, saya kan malu yang ngomong anak saya,” ujar bapak beranak tiga tersebut. Setelah meminta izin istri, Arifin pun meluncur ke Tangsel.

Pendiri Tato Hijrah Removal Sandi Widodo pun datang membawa air minum. Segelas air putih langsung diteguk Arifin. Rupanya ia haus usai operasi singkat tadi. Arifin merupakan pasien terakhir hari itu. Sandi mengatakan ruangan operasi berukuran 8 x 6 meter persegi tersebut, sedikitnya sudah 350 orang yang ditangani untuk menghapus tato. Pusat penghapusan tato sendiri dibangun 14 Agustus 2017. “Gratis, tapi daftar tunggunya masih panjang,” canda pria yang sebelumnya berprofesi sebagai pembuat tato tersebut.

Sandi mengatakan tidak sedikit orang yang menginginkan untuk menghapus tato. Namun, mahalnya biaya penghapusan tato membuat mereka pasrah. “Jika konsultasi ke dokter kulit mungkin habis sekiar Rp 500 atau Rp1 juta,” terangnya.

Meski demikian, Sandi mengaku syarat untuk menghapus tato gratis sangat mudah. Dia menjelaskan para pasiennya wajib menghafal 50 ayat dalam surah Alquran. Bagi Sandi, syarat itu menjadi bukti kesungguhan seseorang berani berhijrah. “Kami juga terlebih dahulu berkomunikasi dengan orang tersebut menilai kesungguhannya, karena setelah ikut program kami tak akan lepas begitu saja kami akan berikan jadwal treatment,” terangnya,

Sandi menambahkan kalangan penghapus tato datang dari berbagai daerah, tak hanya dari Tangsel. Mereka datang dari luar kota di antaranya Surabaya, Gresik, Jogja, Malang, Indramayu, Cirebon, Padang, Bangka belitung, Makassar, Jambi, Kalimantan dan bahkan Malaysia.

“Awalnya saya benar-benar tak ada ide mendirikan studio ini. Niatan pertama itu muncul setelah berpikir ulang. Kala itu, saya mau menghapus tato di badan saya saja, ternyata setelah dikonsultasikan ke dokter biayanya mahal sekali,” katanya.

Setelah berbicara dengan sang istri, muncul sebuah gagasan mendirikan studio. Dia mengaku keterbatasan alat menjadi kendala utama dalam menjalankan program tersebut. Namun demikian, ia tak patah semangat untuk membeli alat laser membutuhkan sedikitnya Rp 80 juta. “Istri saya menyarankan untuk membuka donasi dan bekerja sama dengan situs donasi untuk menggalang dana (fundraising) sebagai inisiatif, campaign dan program sosial,“ ucapnya.

Dia bersyukur mendapat respon sangat bagus. Hanya dalam tiga hari saja, dana yang terkumpul mencapai Rp 90 juta. “Setelah itu, saya tutup penggalangannya. Kaget juga, ternyata antusias para donatur begitu positif,” terang pria berjenggot yang kesehariannya menjadi driver online tersebut.

Sandi bersyukur niatannya bisa membantu masyarakat terwujud. Semuanya, dilakukan secara ikhlas tanpa komersialisasi. Meskipun, kini dirinya meminta donasi perawatan laser sebesar Rp 150 ribu untuk sekali pelaseran. “Uang itu, saya gunakan untuk perawatan. Soalnya, ternyata mesin laser ada kapasitas maksimumnya. Itu ketahuannya, setelah saya menekuni selama kurang satu tahun ini,” tandasnya. (*/fin/tgr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.