Tagihan Melonjak saat WFH, PLN Jabar Bantah Isu Subsidi Silang

72
0
PAPARKAN. Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN UID Jawa Barat Rino Gumpar Hutasoit memaparkan penggunaan listrik di Jawa Barat selama masa pandemi melalui teleconference Zoom Selasa (16/6). Lisna Wati / Radar Tasikmalaya

TASIK –  PT Perusahaan Listrik Negara (persero) atau PLN buka suara terkait naiknya tagihan listrik pelanggan akhir-akhir ini.

PLN memastikan lonjakan tagihan listrik murni karena meningkatnya penggunaan listrik rumah tangga selama PSBB yang mengharuskan bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Baca juga : Pemkot Tasik Belum Berani Buka Karaoke & Bioskop Karena Ini..

Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN UID Jawa Barat Rino Gumpar Hutasoit mengatakan sejak ada PSBB masyarakat berkegiatan di rumah, mulai dari bekerja hingga belajar.

Sehingga terjadi kenaikan penggunaan listrik rumah tangga sebesar 13 hingga 20 persen. Sementara itu penggunaan listrik di industri, pemerintahan dan sosial menurun sekitar 20 persen.

“Secara umum, pemakaian listrik di Jabar pada Mei lalu turun 16% dibandingkan periode normal, sebelum WFH.

Loading...

Biasanya konsumsi listrik tumbuh 3% per tahun. Kalau memperhitungkan angka pertumbuhan ini, berarti total penurunan pemakaian listrik Mei mencapai 19%,” katanya melalui Zoom Meeting, Selasa (16/6).

Kenaikan konsumsi kelompok pelanggan rumah tangga, menurut dia, terjadi karena pada periode tersebut masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah.

Selama WFH, kata ia, masyarakat lebih banyak menggunakan TV, lampu, AC, pompa air dan lain-lain.

Kontribusi alat elektronik, seperti TV dan lain-lain terhadap pemakaian listrik sekitar 15%-20% sedangkan AC mencapai 60%-70%.

“Pemakaian konsumsi listrik lebih panjang dari biasanya akhirnya tanpa disadari berkontribusi terhadap kenaikan tagihan listrik” katanya.

Selain itu, pada bulan Mei yang bersamaan dengan bulan Ramadan, membuat masyarakat berkegiatan lebih awal dari biasanya.

Sehingga, tanpa terasa konsumsi listrik juga meningkat.

“Kalau Ramadan kita bangun lebih awal, masak dan lain-lain, lampu nyala semua jadi lebih panjang, sehingga ada kenaikan dari bulan sebelumnya.” ucapnya.

Faktor lainnya, kata ia, adanya pencatatan rata-rata pemakaian listrik bulan sebelumnya pada saat sebelum dan sesudah WFH.

Dengan begitu, adanya konsumsi listrik yang belum terbayar, akan tertagih pada rekening bulan depan.

“Pelanggan yang tagihan listriknya melonjak saat pandemi hanya perlu membayar tagihan sebesar bulan lalu (tagihan rata-rata tiap bulan) ditambah 40% dari kenaikan tagihan listrik.

Lalu sisa tagihan dibayar selama 3 bulan ke depan atau dicicil. Hal ini juga yang menyebabkan tagihan melonjak, sebagai akumulasi pembayaran tagihan bulan sebelumnya,” jelasnya.

Rino pun memastikan pihaknya tidak melakukan subsidi silang dalam pemberian stimulus Covid-19 kepada pelanggan 450 VA dan 900 VA bersubsidi, sebab stimulus diberikan langsung oleh pemerintah.

Selain itu, PLN sebagai perusahaan penyedia listrik satu-satunya memiliki pengawasan yang sangat ketat dalam pelaksanaannya.

“Tidak ada subsidi silang dan tidak ada kenaikan tarif listrik. Sejak tahun 2017 tarif listrik tidak mengalami kenaikan.

Baca juga : Cegah Corona di Kota Tasik, Petugas Lakukan Ini di Terminal

Lonjakan tagihan murni karena meningkatnya pemakaian listrik selama masa pandemi,” katanya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan listrik. “Silahkan berhemat,” pungkasnya. (na)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.