Tahun Baru Rawan Penyalahgunaan Narkoba, Tim Gabungan Memeriksa Urine Tamu Karaoke

139
0
PERIKSA URINE. Tim dari Polres Tasikmalaya Kota, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya dan TNI merazia pengunjung karaoke di pusat Kota Tasikmalaya Senin (30/12). Mereka juga memeriksa urine para tamu tempat bernyanyi tersebut. RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Liburan pergantian tahun memberikan euforia kepada masyarakat, termasuk di Kota Tasikmalaya. Momentum liburan ini dinilai berpotensi meningkatkan peredaran narkoba.

Senin malam (30/12), Polres Tasikmalaya Kota bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya dan TNI melakukan razia di tiga tempat karaoke. Hasilnya, petugas menemukan pengunjung yang membawa miras. Tim gabungan pun memeriksa urine pengunjung. Hasilnya, ditemukan urine tiga perempuan yang positif mengandung Benzodiazepin.

Kasat Narkoba Polres Tasikmalaya Kota AKP Hamzah Badaru mengatakan bahwa analisis kepolisian, di masa liburan tahun baru rawan dengan peredaran narkoba. Maka dari itu, pihaknya melakukan razia ke tempat hiburan. “Kita lakukan serentak di tiga tempat karaoke,” ujarnya.

Terkait tiga perempuan yang hasil tes unrine-nya mengandung obat terlarang, Hamzah menyebutkan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kandungan tersebut dikarenakan ketiganya mengkonsumsi obat-obatan tertentu. “Karena mereka mengalami gangguan kesehatan,” ujarnya.

Hamzah meminta kepada masyarakat untuk melakukan euforia malam pergantian tahun baru secara wajar. Jangan sampai menyalahgunakan minuman beralkohol terlebih narkoba.

“Selain membahayakan tubuh, bisa mengganggu warga yang lain juga efeknya,” tuturnya.

Terpisah, Kepala BNN Kota Tasikmalaya H Tuteng Budiman mengatakan bahwa Kota Tasikmalaya masih menjadi sasaran empuk untuk peredaran narkoba. Tahun ini pihaknya mengungkap 2 kasus ganja dan 2 sabu-sabu. “Tahun ini kita proses empat kasus dengan 6 tersangka, mereka semua kurir,” ujarnya.

Modus peredaran yang dilakukan masih menggunakan sistem tempel. Cara lama yang menyimpan narkoba di tempat tertentu itu cukup membuat petugas kesulitan untuk pengembangan.

Hal ini mengakibatkan penyidik sulit menggapai bandar. “Karena jaringannya terputus, mereka tidak kenal dengan bandar,” tuturnya.

Soal narkoba yang menjadi tren di Kota Tasikmalaya, dia menilai masih bervariatif. Selain obat-obatan keras dan psikotropika, ganja dan sabu-sabu pun masih menjadi ancaman serius. “Jadi tidak menonjol di satu jenis saja,” katanya.

Ketua Mantan Narapidana Tasik (Manasix) Asep Ugar menyebutkan yang paling diperlukan untuk mencegah peredaran narkoba yakni kesadaran dari masyarakat. Karena tindakan represif seperti apapun, penyalahgunaan narkoba terus bergulir.

“Itulah kenapa kita terus melakukan sosialisasi ke masyarakat khususnya para siswa, masyarkat harus sadar bahwa narkoba itu memang berbahaya,” tuturnya.

Menurutnya, pemerintah harus fokus dalam membangun karakter masyarkat dengan kebudayaan. Karena kebudayaan lokal bisa mengikis pengaruh budaya luar yang negatif.

“Kalau masyarakat kita sudah menerapkan budaya lokal, mereka juga bisa terhindar dari pengaruh narkoba,” ujarnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.