Tak Ada Lagi Sarana Musik Indoor

54
0
DILARANG. Suasana di Gor Sukapura yang tidak boleh lagi digunakan untuk kegiatan musik indoor, Selasa (6/8). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

CIHIDEUNG – Para pegiat musik tidak bisa lagi menyelenggarakan acara indoor di Gor Sukapura dan GGM di Kompleks Olahraga Dadaha yang biasanya bisa digunakan. Sekretaris Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) Kepler Sianturi pun menyesalkan hal ini.

“Jadi di Kota Tasik hanya bisa outdoor saja, karena mau di mana lagi,” kata dia kepada Radar, Selasa (6/8).

GKKT sendiri tidak bisa mengakomodir semua kegiatan musik terutama jenis festival. Pasalnya, tata ruang yang dimiliki tidak memungkinkan di antaranya area penonton yang diisi kursi. “Kalau di GKT lebih kepada jenis musik yang soft, enggak mungkin kalau digunakan acara band,” tuturnya.

Pada prinsipnya, penyelenggaraan acara musik indoor maupun outdoor masih sama. Namun, teknisnya yang berbeda, dari mulai cost yang harus dikeluarkan serta konsep pengamanannya. “Kalau outdoor pasti lebih mahal, event musik dengan budget kecil bakalan berat,” kata dia.

Maka dari itu, pihaknya berharap pemerintah bisa mengubah kebijakan larangan acara musik di GOR Sukapura. Kecuali jika pemerintah kembali membangun gedung yang bisa digunakan acara musik indoor. “Kasihan musisi-musisi dan EO lokal jadi susah bikin event,” ujarnya.

Kepala UPTD Dadaha Gumilang Herdis Kiswa mengatakan, larangan acara musik di Gor Sukapura dan GGM itu merupakan kebijakan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Tasikmalaya. Pihaknya hanya sebagai pelaksana saja di bidang pengelolaannya. “Hanya boleh digunakan kegiatan olahraga atau kegiatan-kegiatan yang bersifat edukasi,” tuturnya.

Alasan larangan acara musik di Gor Sukapura dan GGM lebih kepada upaya menjaga aset pemerintah. Bahkan resepsi pernikahan pun sudah tidak boleh menggunakan bangunan-bangunan tersebut. “Dulu kan bisa digunakan untuk resepsi pernikahan, sekarang itu juga sudah tidak bisa,” katanya.

Potensi dari retribusi ke­giatan musik dan pernikahan cukup ting­gi. Padahal, target retribusi dari Gor Sukapura tersebut mencapai Rp 30 juta per tahun. “Pemerintah pun menanggung risiko penurunan pen­dapatan dari retribusi itu,” kata dia. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.