Tak Ada Parkir di Badan Jalan HZ – Cihideung Kota Tasik

6158
5
MONITOR. Petugas ATCS Dishub Kota Tasikmalaya memantau kondisi lalu lintas di Jalan HZ Mustofa, Selasa (23/6). Firgiawan / Radar Tasikmalaya

BUNGURSARI – Rencana penataan Jalan HZ Mustofa akan memiliki konsekuensi hilangnya area parkir pada trase Simpang Adipura sampai Cihideung. Untuk itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya harus menyiapkan alternatif penyimpanan kendaraan.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Tasikmalaya Gumilar menjelaskan perlunya pengganti area parkir di sekitaran HZ Mustofa, bukan semata mempertahankan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Baca juga : 2 Warga Jakarta Edarkan Pil Setan ke Pelajar Kota Tasik

Melainkan sebagai penyeimbang siklus antara parkir dan volume kendaraan yang masuk.

“Ketika program ini berjalan, nantinya akan menjaring volume lalu lintas ke HZ Mustofa, namun perlu disediakan pengganti lahan parkirnya. Sehingga park and ride berjalan efektif,” kata dia kepada Radar, Selasa (23/6).

Pihaknya mengkaji beberapa alternatif sebagai sarana pengganti parkir. Mulai dari pemanfaatan ruas jalan penunjang HZ Mustofa, serta membuat parkir off street.

Loading...

Opsi paling ideal, kata Gumilar, yakni membuat area parkir khusus di lokasi eks Setda Kabupaten Tasikmalaya atau mengandalkan sarana parkir swasta yang hendak berinvestasi di sekitaran pusat kota.

“Bekas setda baiknya bisa dibuat gedung parkir, kapasitas lima lantai saja. Sebagai ancang-ancang apabila pilot project sukses dari Simpang Adipura ke Simpang Cihideung, dilanjutkan sampai ke Tugu Asmaul Husna,” analisisnya.

Dia menjelaskan ketika gedung parkir hadir, satu lantai bisa digunakan untuk mengakomodir pedagang kecil.

Sehingga, bisa simultan dengan rencana penataan Jalan Cihideung.

“Ketimbang dibuat Cihideung Sky Walk seperti yang sempat muncul, kami rasa lebih pas di sana ditempatkannya untuk PKL kuliner misalnya dan lain-lain,” kata Gumilar.

Menurutnya, apabila sudah tersedia area parkir khusus sebelum kendaraan masuk ke HZ Mustofa, otomatis pengunjung akan memanfaatkan trotoar untuk berbelanja di pertokoan.

Ketika pedestrian sudah tertata rapi dan tidak kumuh, serta area-nya luas akan nyaman dilalui pejalan kaki.

“Ini sudah masuk kajian kami berkaitan lalu lintas. Memang akan terjadi gangguan lalin secara signifikan, ketika volume begitu besar. Namun ketersediaan parkir tidak disiasati. Maka diharapkan sebelum konstruksi dimulai, alternatif parkirnya harus disiapkan karena parkir on street (badan jalan)-nya akan ditiadakan,” ucapnya.

Dia memetakan lebar Jalan HZ Mustofa dari Simpang Adipura sampai dengan Cihideung, sekitar 12 meter.

Jalur lalin minimalnya diperlukan 2,75 meter, sehingga apabila Pemkot berencana membuat dua jalur, otomatis memakan sekitar 6 meter untuk jalur kendaraan. “Ditambah perlu ada 1,5 meter untuk jalur sepeda dan becak, sebab eksisting hari ini becak di sana aktif,” papar dia.

“Sehingga space untuk pedestrian area, tersisa sekitar 4,5 meter. Nah itu untuk digunakan tempat duduk, pejalan kaki, PKL ditata seperti Braga Bandung,” sambungnya mendeskripsikan.

Baca juga : PNS Pemkab Tasik Sisihkan Gaji untuk Sedekah

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya H Aay Zaini Dahlan ATD menambahkan rumusan tersebut diprediksi hanya berlaku sepanjang ruas Simpang Adipura sampai dengan Cihideung saja.

Sebab, mulai dari Simpang Pataruman sampai seterusnya, ruas Jalan HZ Mustofa menyempit. “Nah dari Simpang Panyerutan itu lebar jalan lebih besar lagi. Kelihatannya sejak peninggalannya konstruksi sudah seperti itu. Maka kemungkinan besar kalau dilanjutkan perhitungan penataannya harus disesuaikan,” kata Aay. (igi)

Loading...
loading...

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.