Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.2%

2.4%

54.4%

6.9%

0.7%

13%

0%

22.4%

0%

Tak Punya Gedung, 76 Siswa MI di Tasik Belajar di Gubuk

88
0
Istimewa MIRIS. Peserta didik MI Mis Cileunjang Kecamatan Bojonggambir harus rela belajar di sebuah gubuk.

Sebelumnya, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mis Cileunjang Desa Campakasari Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya terpaksa belajar di gubuk.

Pasalnya, sekolah ini tak memiliki bangunan kelas yang bisa digunakan peserta didiknya belajar.

Sebanyak 76 siswa harus rela belajar bergantian di ruangan 10 x 4 yang disekat menjadi tiga bagian.

Dinding bangun tersebut pun terbuat dari bilik dan kayu seadanya.

Alasnya pun hanya tanah, tanpa ada lantai yang membuat para siswa belajar nyaman.

Kepala MI Mis Ci­leunjang Ke­­camatan Bo­jonggambir, Deden Saeful Bahri AMa mengatakan proses pembelajaran dibagi menjadi dua sesi.

Siswa kelas I, II dan III belajar sejak pukul 07.00-10.00 WIB. Sedangkan untuk siswa kelas IV, V dan VI belajar mulai pukul 10.00-13.00 WIB.

“Kami terpaksa menjalankan proses kegiatan belajar mengajar di gubuk ini, dikarenakan tidak memiliki ruangan lagi. Ini juga gubuk merupakan hasil pembangunan swadaya masyarakat sekitar, sejak tiga tahun silam,” ujarnya kepada Radar, Minggu (1/12).

Deden menjelaskan sebagian besar material ruangan kelas terdiri dari bambu dan kayu.

Pada bagian samping dan belakang ditutupi bilik, bagian atapnya terbuat dari asbes dan ruangan belajarnya beralaskan tanah.

Tidak ada kaca dan terbuka, bagian depan tidak dipasang bilik, hanya samping dan belakang. “Ya jelas tidak nyaman belajar dalam ruangan seperti ini,” katanya.

Dia berharap pemerintah daerah dapat segera membuatkan ruang kelas baru untuk sekolah mereka. Dikhawatirkan ketika musim hujan, ruangan banjir dan becek yang jelas mengganggu aktivitas belajar.

“Kami tentunya sangat mengharapkan ruang belajar yang layak, karena kasihan kepada anak-anak. Kami bukan tidak mau membangun seperti yang lainnya, tapi kemampuan anggaran terbatas,” katanya.

Lanjut Deden, sebelum ada MI hasil dari swadaya masyarakat ini, anak-anak di kampung tersebut harus bersekolah ke SD dengan jarak terdekat lima kilometer, yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Ketika musim hujan, anak-anak harus rela bersekolah selama dua hari dalam seminggu, karena jarak yang jauh dan cuaca buruk.

“Alhamdulillah dengan adanya MI, para orang tua dan anak-anak sangat terbantu untuk bisa menimba ilmu dengan jarak yang terjangkau. Mereka tidak harus jauh-jauh berjalan kaki menuju tempat belajar,” katanya, menjelaskan.

Deden mengaku terharu melihat anak-anak yang sangat semangat dalam belajar meskipun hanya belajar di dalam gubuk beralaskan tanah. Mereka tidak pernah mengeluhkan dengan kondisi yang apa adanya ini.

“Saya cukup terharu melihat semangat mereka, ditambah dorongan para orang tuanya yang ikut mendukung dengan dibangunnya gubuk untuk proses pembelajaran anak-anaknya. Mudah-mudahan saja pemerintah memberikan bantuan untuk hadirnya ruang kelas,” harapnya.

Saat dikonfirmasi kepada Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tasikmalaya KH Usep Saepudin Muhtar terkait kondisi bangunan MI Mis Cileunjang melalui sambungan teleponnya belum memberikan jawaban.

232 MI Rusak

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya H Surya Mulyana MAg mengatakan saat ini jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang mengalami kerusakan mencapai 232 sekolah.

“Yang mengalami rusak berat kurang lebih ada 3 sekolah, rusak sedang 30, sementara sisanya mengalami rusak ringan,” ujarnya kepada Radar, Selasa (3/12).

Menurutnya, bagi MI yang ingin mengajukan bantuan ruang kelas baru (RKB) bisa mengajukan melalui SIM Sarpras (Sistem Informasi Sarana dan Prasarana). Aplikasi ini, kata Surya, merupakan sistem baru yang diluncurkan Kemenag sebagai upaya transparasi dan akuntabilitas bantuan pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana madrasah.

SIM Sarpras ini, tambah dia, bisa diakses setiap madrasah untuk mengajukan permohonan penambahan maupun perbaikan sarana dan prasarana seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain. “MI dalam hal ini dituntut untuk melaporkan sedetai-detailnya tentang keadaan sarpras sekolah. Kemudian menulis permohonan lewat aplikasi ini. Nantinya permohonan akan masuk terlebih dahulu ke akun SIM Sarpras Kabupaten Tasikmalaya untuk diverifikasi,” paparnya.

Setelah itu, kata dia, pengajuan bantuan RKB tersebut akan dikirim ke penanggung jawab SIM Sarpras Provinsi Jawa Barat. Yang kemudian diverifikasi ulang dan terakhir ke SIM Sarpras Pusat sebagai pemegang wewenang untuk menindaklanjuti permohonan yang diajukan madrasah bersangkutan. “Intinya, SIM Sapras ini untuk memudahkan dalam proses pengajuan bantuan. MI yang ingin mengajukan bantuan cukup dengan memilih jenis bantuan yang akan diajukan. Tidak diperlukan kembali membuat proposal dalam bentuk hardcopy,” katanya.

Ia menjelaskan syarat utama MI bisa mengajukan bantuan hanya bagi yang sudah terdaftar di EMIS SDM, dan sudah melakukan entri data. “Karena data yang digunakan untuk dasar penilaian bantuan sarpras diambil dari EMIS SDM,” paparnya.

Pendataan EMIS SDM, kata dia, merupakan hal penting dilakukan dan dikerjakan setiap MI di bawah naungan Kementerian Agama. “Sebab pendataan EMIS SDM ini digunakan sebagai dasar penyaluran dana BOS pada setiap MI,” tuturnya. (obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.