Tak Hanya Pendek, Stunting Hambat Perkembangan Otak

83
0
Lina Marlina SST MKeb
Lina Marlina SST MKeb

TASIK – Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek atau stunting.

Dosen Kebidanan Universitas Bhakti Kencana (UBK) Tasikmalaya Lina Marlina SST MKeb menjelaskan, angka anak yang tergolong dalam kriteria stunting di Indonesia terbilang tinggi. Kenyataan ini tercermin dari hasil berbagai riset yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kemenkes tahun 2018 mengungkap persentase anak-anak yang terbilang stunting di Indonesia mencapai 30,8%,” ujarnya kepada Radar, Jumat (31/1).

Baca Juga : Kurangi Kebiasaan Duduk Lama

Pemantauan Status Gizi (PSG) yang digelar Kemenkes di tahun 2017 menunjukkan hasil yang tak jauh berbeda. Kegiatan itu mengungkap persentase anak bawah lima tahun (balita) yang mengalami stunting sebesar 29,6%. Kedua persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan standar persentase stunting yang ditetapkan oleh WHO yaitu 20%.

Ia mengatakan, kebanyakan orang tua yang mempunyai balita hanya melihat pertumbuhan anaknya dari berat badan. Jika berat badan cukup atau melihat pipi anaknya sudah sedikit tembam, anak tersebut dianggap sudah sehat.

“Padahal, tinggi badan juga merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah nutrisi anak sudah baik atau belum. Pertumbuhan tinggi badan yang tidak normal dikenal dengan nama stunting,” ujar Lina yang menjabat Wakil Kepala Cabang UBK Tasikmalaya.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya, dengan kata lain stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan anak sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

“Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun,” ujarnya.

Lanjutnya, banyak yang tidak mengetahui kalau anak yang pendek adalah tanda dari adanya masalah gizi kronis pada pertumbuhan tubuh anak. Terlebih lagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun.

“Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat, karena stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi,” ungkapnya.

Tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal, merupakan akibat dari kondisi kurang gizi yang terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Hal inilah yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat.

Baca Juga : Kurangi Kebiasaan Duduk Lama

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting yakni jangka pendek terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

Dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke dan disabilitas pada usia tua

“Semua dampak tersebut akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, produktivitas dan daya saing bangsa,” katanya. (na)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.