Kiprah Babe Goum Melestarikan Silat Beksi

Tak Ingin Beladiri dan Mengaji Kalah oleh Teknologi

166
0
KHANIF LUTFI / FIN JURUS ANDALAN. Babe Goum alias Namid bin Bean (61) menunjukkan jurus andalannya di Padepokan Sanghiyang Putih Kota Tangsel, Selasa (18/12).

Belajar silat tak sekadar olah raga atau ajang unjuk gigi. Tetapi lebih dari itu, silat merupakan identitas yang patut diles­tarikan. Seperti kiprah Babe Goum melestarikan silat Beksi, seni beladiri khas Betawi yang mulai luntur dimakan zaman.

KHANIF LUTFI, Tangsel

Kondisinya sangat kontras. Berada di tengah pemukiman elit di Kota Tangsel, Padepokan Sanghiyang Putih di Kelurahan Perigi, Pondok Aren, Kota Tangsel milik Babe Goum terapit sekolah swasta bertaraf internasional yang pagarnya dua kali ukuran orang dewasa.

Namun siapa sangka, di balik itu, telah ada ratusan pendekar lahir untuk melestarikan silat Beksi. Untuk masuk ke padepokan ini, harus melewati jalan setapak.

Tak banyak yang tahu, masuk lebih ke dalam, rumah blandongan khas betawi mulai terlihat. Tak ada spanduk dan penunjuk jalan. Kesan bagi yang awam, padepokan ini terbilang rahasia.

Saat wartawan Fajar Indonesia Network (FIN) masuk, Babe Goum tengah memegang pacul. Peluhnya sebesar biji jagung menetes di keningnya. Ia tengah sibuk merapikan paving blok yang mulai lapuk termakan lumut.

Setelah memperkenalkan diri, Babe Goum mempersilakan masuk.

Di teras rumahnya, nampak empat ondel-ondel dengan berwajah merah berdiri bak mengawasi yang datang. Di sisi lain, ada saung yang digunakan untuk tempat salat murid dan gurunya.

Ya, Babe Goum panggilan kerennya. Nama lengkapnya Namid bin Bean. Padepokan ini berdiri tanggal 27 Juli 2001. Di sana, ia dan puluhan muridnya berlatih beksi. Sebelum larut dalam pembicaran bagaimana mengurus padepokan ini, Babe Goum terlebih dahulu bercerita mengenai sejarah Beksi.

Ya, Silat beksi menurut legenda, muncul di Kampung Dadap, Kosambi, Pantai Utara Tangerang. Di kampung itu, tinggal seorang wanita bernama Maimunah. Setiap hari, selalu mendapat siksaan dari suaminya. Maimunah diam-diam bertapa ke sebuah goa. Dalam semedinya, ia melihat bayangan mirip seekor kera putih melakukan aksi bela diri.

Usai bertapa ia berlatih dari apa yang dilihatnya tadi. Kembali ke rumah, semua jurus itu pun menjadi bekalnya menangkis serangan dari suaminya. Nama Maimunah mulai kesohor ke kampung-kampung. Banyak yang ingin belajar bela diri darinya. Hingga jurus-jurus beksi inilah yang diwariskan turun temurun sampai ke padepokan Sanghiyang Putih, Kota Tangsel.

Ini juga yang mendasari kata sanghiyang putih. Sanghiyang berarti bayangan dan putih. Ini seperti cerita melegenda tentang perjalanan Maimunah mendapatkan ilmu bela diri beksi.

Tak terhitung berapa murid yang telah belajar dari Babe Goum. Saat ini saja, ada 390 murid yang tersebar ke tujuh cabang dan lima ranting. “Untuk mengurus itu saya dibantu 12 pengajar lainnya,” terang Babe.

Sambil menghisap kreteknya, pria satu anak ini bercerita. Mulai berlatih silat sejak usia tujuh tahun, membuat dirinya hapal seluk beluk silat beksi. Ia pun mulai sadar, jika kebudayaan Betawi Tangerang mulai pudar. Banyak budaya dari daerah lain bahkan asing masuk. Ia tidak mau anak cucunya kehilangan identitas sebagai keturunan betawi.

Pada dasarnya, seni bela diri pencak silat bukanlah sebatas perkelahian atau pertarungan fisik. Banyak nilai luhur yang bisa diambil. “Mulai dari keyakinan diri, kepercayaan diri, mawas diri sampai tahu diri,” kata Babe Goum.

Ada motto yang melekat di padepokannya yakni silat, salat dan salawat. Ya, setiap orang yang belajar di padepokannya tidak cuma bisa beladiri dan mengenal budaya betawi. Tetapi juga bisa mendekatkan diri ke Tuhan.

“Banyak arti dan filosofi yang diajarkan dalam setiap jurus beksi. Totalnya, ada 13 jurus. Setiap jurus mempunyai arti dan filosofi yang luhur. Seperti rendah hati dan mawas diri serta berkaca diri,” tuturnya.

Babe rutin mengajar setiap Jumat malam di rumah yang sekaligus menjadi padepokan. Muridnya beragam, mulai dari usia dini sampai yang tua. Menurut penuturannya, ia pernah punya murid yang usianya sudah 70 tahun.

Tak cuma ilmu beladiri, pria 61 tahun ini juga mengajarkan membuat ondel-ondel beserta arti dan filosofinya. Ada juga tradisi palang pintu yang biasa digunakan dalam acara menyambut tamu serta minuman khas betawi bir pletok.

Ia berharap perjuangannya melestari­kan budaya betawi ini bisa diteruskan sampai anak cucunya. Ia tidak ingin anak-anak tergerus oleh pesatnya tek­nologi. Sehingga tidak mengenal budaya dan adat istiadat leluhurnya. “Jangan sampai anak cucu kita tidak bisa beladiri dan mengaji kalah dengan pesatnya teknologi, “ tandasnya. (*/fin/tgr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.