Tak Sediakan APAR, Tutup Saja!

31
RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA PRETEKSI. Kepala Disporabudpar menunjukkan APAR mini untuk proteksi kebakaran.

INDIHIANG – Setiap kafe dan restoran di Kota Tasikmalaya harus memiliki alat pemadam api ringan (APAR) untuk memadamkan api kecil di awal kebakaran. Bila pengusaha menolak menyediakan alat tersebut lebih baik ditutup saja.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Muslim MSI saat diwawancara Radar, Jumat (21/12). Dia menyesalkan tempat usaha di Kota Resik masih menyepelekan proteksi kebakaran. Bukan hanya restoran dan kafe, toko pun idealnya menyiapkan APAR. “Itu kan demi keamanan pengunjung, karyawan dan aset pengusaha sendiri,” ungkapnya.

Menurut Muslim, ketidakpedulian terhadap penyediaan alat proteksi kebakaran merupakan kebiasaan buruk yang harus dihilangkan. Pengusaha jangan terlalu percaya diri bahwa tempat usahanya tidak mungkin kebakaran. Bencana ini bisa saja terjadi tanpa diduga. “Jadi seolah harus kejadian dulu, baru sadar kalau itu penting,” katanya.

Instansi terkait, kata dia, harus mengambil tindakan tegas bila ada tempat usaha yang tidak menyediakan APAR atau sejenisnya. Bila teguran lisan tidak digubris, maka perlu ada pemanggilan. “Mungkin selama ini pemerintahnya yang kurang tegas,” terangnya.

Wawancara sebelumnya, Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) mencatat ada sebanyak 299 restoran dan sedikitnya 14 kafe yang ada di Kota Tasikmalaya. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian yang memperhatikan proteksi kebakaran dengan.

Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya H Aan Hadian mengakui mayoritas pengelola restoran belum memperhatikan soal APAR. “Entah menganggap hal sepele atau memang karena alasan lainnya,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (20/12).

Pihaknya sudah mengimbau para pengusaha terkait jaminan keamanan dan keselamatan kerja. Karena hal itu termasuk dalam Sapta Pesona yang menjadi jargon kepariwisataan. “Salah satunya keamanan, termasuk dari ancaman kebakaran,” tuturnya.

Menurutnya, kafe dan restoran merupakan usaha di bidang kuliner yang erat dengan urusan perapian. Maka dari itu, potensi kebakaran tidak bisa dikesampingkan dan harus diperhatikan. “Apalagi sekarang penggunaan dekorasi kayu atau bambu sedang tren, kalau terbakar akan mudah membesar,” ujarnya.

Persoalan proteksi kebakaran ini, kata Hadian, akan menjadi evaluasi Disporabudpar. Bagaimanapun, pihaknya tidak ingin ada citra pariwisata Kota Tasikmalaya melemah hanya karena kelalaian dari pengelola restoran dan kafe. “Bukan semata-mata keamanan saja, citra kita dalam hal menjaga keamanan pengunjung pun memang jadi penilaian publik,” katanya. (rga)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.