Tak Tertahan, Penerima BPUM di Kota Tasik Berdesakan

2660
0
radartasikmalaya.com
Salah seorang pengantre pencairan BPUM di parkiran perbankan BUMN di Cihideung terjatuh ketika berdesak-desakan, Rabu (21/10) pagi. denden ahdani / radartv

KOTA TASIK – Pencairan Bantuan Presiden Usaha Mikro (BPUM) di Kota Tasikmalaya melalui bank BUMN maupun pendaftaran di Perkantoran Djuanda, Rabu (21/10) pagi, tak tertahan hingga berdesakan.

Pemkot Tasik selalu gencar mengingatkan jaga jarak demi mencegah penyebaran Covid-19.

Seperti pantauan radartasikmalaya.com di salah satu perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jalan R Ikik Wiradikarta, Cihideung, sejak pukul 05.30 WIB ratusan massa yang mendapatkan bantuan itu telah berkerumun di area parkiran.

 

Selain berkerumun, massa pun sempat sejenak adu mulut dengan pihak keamanan perbankan itu.

Hingga akhirnya terjadi pemindahan lokasi pengambilan nomor urut.

Karena massa ingin cepat-cepat menjadi yang terdepan mengambil nomor urut, maka massa pun silih berganti berlarian sambil berdesak-desakan di area parkiran tersebut.

Beberapa lansia sempat terjatuh. Namun untungnya tak ada yang terluka.

Beberapa warga yang mengaku sebagai penerima bantuan itu mengaku kecewa dengan pola pengambilan nomor urut tersebut.

Karena informasinya tak jelas. Seperti harus mengambil nomor urut antrean jam 01.00 dini hari.

Namun hingga pukul 06.00 WIB tak kunjung dibagikan. Sekira pukul 06.37 WIB, nomor antrean akhirnya dibagikan.

“Tadi massa sempat bersitegang dengan petugas satpam karena kemarin dapat info dari satpam bahwa pengambilan nomor antrean dari jam 1 malam,” keluh Rizal Muslim (30), salah seorang penerima BPUM asal Kawalu kepada wartawan.

“Tapi ternyata waktu saya ke sini jam 1 malah ditolak. Saya dari jam 1 dini hari ke sini. Alasannya belum ada perintah dari atasanya. Katanya malah 1 jam sebelum dibuka baru dibagikan nomor antreannya,” sambungnya.

Berarti, terang dia yang datang dari jam 01.00 WIB dini hari dan tiba pagi jam 06.00 WIB sama saja.

Harusnya memberikan informasi itu yang jelas agar tak terjadi kerumunan massa seperti ini.

“Menurut saya di masa pandemi seperti ini seharusnya ada solusi agar tak ada penumpukan. Lebih baik dikasih antrian dari awal agar jika sudah terpenuhi kuota tak perlu ada penumpukan massa seperti ini,” terangnya.

Hal senada dikeluhkan penerima BPUM lainnya, Erna Damatias (50).

Tutur warga Kecamatan Kawalu ini, dirinya tiba di lokasi tersebut jam 04.00 WIB. Namun dia tak kebagian nomor antrean.

“Saya tak dapat nomor antrean. Katanya karena banyak orang yang tak mau diatur. Jadi tak usah ada nomor antrean. Saya dilempar ke sana sini makanya ada senggolan saking penuhnya massa,” tuturnya.

Disinggung apakah tak takut Covid-19 karena berkerumun ketika mengantre, tambah dia, mau bagaimana lagi karena dirinya sangat membutuhkan bantuan tersebut.

“Namanya juga kalau lagi begini mah Covid juga lewat. Sebenarnya takut ada Covid karena berdesak-desakan, tapi ya mau bagaimana lagi. Katanya kan jam berapapun ke sini bisa dapat nomor antrean tapi nyatanya ya begitu lah,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.