Tangis Selimuti Penyerahan Korban Asal Garut

254
0
MUHAMAD ALI / JAWAPOS OLAH TKP. Tim Puslabfor dan Inafis Polri melakukan olah Tempat Kejadian Perkara di pabrik kembang api di Jalan Salembaran Raya, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (27/10).

KRAMATJATI – Muhammad Alfin tak kuat menangis histeris saat melihat peti jenazah ayahnya bernama Sutrisna dimasukkan ke dalam mobil ambulans.  Wajah bocah berusia 12 tahun itu terlihat pucat. Tubuhnya seketika lemas dan sempoyongan saat berjalan menuju ambulans.
Pelukan hangat pun diberikan oleh saudara kepadanya. Saudara Alfin mengatakan kalau Alfin harus kuat dan ikhlas atas kepergian kedua orang tuanya. Pelukan tersebut sedikit berhasil membuatnya tenang. Sambil menangis Alfin masuk ke mobil ambulans untuk mengatarkan jenazah sang ayah ke tempat istirahat terakhirnya.
Sama halnya yang dirasakan Dani Setia Ningsih. Air mata terus membasahi pipinya. Setelah tiga hari menunggu di Jakarta jenazah sang suami akhirnya teridentifikasi. Dirinya merasa sedih mengetahui kabar tersebut. jujur saja, Ningsih —sapaan akrabnya— Dani Setia Ningsih masih berharap kalau orang yang sangat dicintainya masih terselamatkan dari maut.
Meskipun begitu Ningsih telah merasa tenang. Meskipun pada kenyataannya suaminya itu telah meninggal, namun jenazahnya telah berhasil teridentifikasi. Ucap syukur pun dilakukannya. Dan Ningsih ingin cepat-cepat mengantarkan jenazah sang suami ke tempat istirahatnya yang terakhir. Sehingga almarhum bisa merasa tenang di alam kuburnya.
Dia tak pernah menyangka suaminya bernama Slamet Rahmat tewas terpanggang api. Padahal selasa (24/10), dirinya baru bertemu denganya. Ketika itu sang suami terlihat gembira saat bermain dengan putranya bernama Arsya Firendra (2). Tidak ada firasat buruk yang dialaminnya. Sebab pemandangan tersebut sudah biasa terjadi. Slamet hanya mengatakan pamit untuk kembali bekerja di Tanggerang. “Karena saya tinggal di Garut, Jawa Barat, jadi suami sebulan sekali pulang ke rumah. Nah, selasa (24/10) malam dia izin pamit kerja ke saya dan anak,” ujar perempuan berusia 25 tahun itu.
Keesokan harinya, Rabu (25/10), Slamet memberikan kabar melalui pesat singkat. Slamet mengatakan kalau baru saja selesai bekerja. Saat itu Slamet mengeluh capek kepadanya. Sebab pekerjaan yang dijalaninya saat ini jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Sebab saat di Garut, Slamet bekerja sebagai pembuat stiker petasan. Bukan bagian packing yang dijalaninya di PT Panca Buana Cahaya Sukses. “Sejak tahun 2008 suami saya sudah bekerja. Dan 2017 pihak perusahaan memindahkannya dari Garut ke Tanggerang. Sebab perusahaan yang di Garut sudah tutup, ” paparnya.
Ningsih masih ingat betul saat pertama kali mengetahui kalau PT Panca Buana Cahaya Sukses terbakar. Ketika itu informasi diberitahukan oleh pihak keluarga. Meskipun begitu dirinya masih bersikap tenang. Untuk mendapatkan informasi dirinya terus menonton dan membaca berita terkait peristiwa tersebut.
Kemudian Ningsih meminta tolong kepada kakaknya yang berada di Tanggerang agar mengecek ke lokasi kejadian. Pengecekan pun dilakukan. Mulai dari pengecekan di lokasi kejadian dan rumah sakit di Tanggerang. Sayangnya, kabar baik terkait suaminya tersebut tak juga datang. “Kakak mengatakan kemungkinan besar Slamet berada di sini (RS Polri, Kramat Jati),” ucapnya.
Bersama sang anak dirinya bergegas menuju lokasi. Kamis (26/10) pukul 23.30, dirinya sampai di RS Polri. Dia pun langsung menuju posko Ante Mortem. Di hadapan petugas dengan panik dia menanyakan keberadaan sang suami. Sayangnya petugas belum bisa mengetahui identitas jenazah yang datang ke rumah sakit tersebut.
Hatinya mulai tidak saat mengetahui kalau yang dievakuasi ke RS Polri adalah khusus korban yang meninggal dunia. Sambil memeluk sang anak dirinya tak henti-hentinya menangis. Ketika itu Ningsih tidak percaya kalau sang suami telah meninggal dunia.
Dirinya memutuskan untuk menginap di rumah sakit sempai adanya kepastian terkait suaminya itu. Namun pihak keluarga memaksa agar dirinya pulang ke rumah saudaranya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Mereka merasa khawatir terhadap kondisi fisik Ningsih dan anaknya itu. “Jangan sampai gara-gara terus memikirkan yang tidak-tidak, saya dan anak malah jatuh sakit, sehingga memperkeruh keadaaan. Saya pun akhirnya pulang pergi Lebak Bulus ke rumah sakit,” tuturnya.
Sosok Slamet dimatanya sangatlah istimewa. Sejak menikah 2012 lalu, Slamet tidak membuat dirinya bersedih. Suaminya itu merupakan orang yang pendiam dan pekerja keras. Demi keluarga apapun dia lakukan. Sampai-sampai Slamet melarang dirinya untuk bekerja. Slamet ingin dia fokus untuk merawat sang anak.
Dirinya merasa bingung dengan musibah yang menimpanya. Sebab sudah tidak ada lagi yang bisa membiayai keluarganya. Namun dirinya tidak putus asa. Ningsih berencana untuk mencari pekerjaan. Apapun itu. Yang terpenting kebutuhan anak dan dirinya bisa tercukupi. (ian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.