Beranda Umum Tanpa Lewat IGD, Setnov Langsung Dirawat ke Ruang VIP

Tanpa Lewat IGD, Setnov Langsung Dirawat ke Ruang VIP

135
BERBAGI

JAKARTA – Direktur Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau Hafil Budianto Abdulgani menyatakan, Setya Novanto seharusnya melalui perawatan di instalasi gawat darurat (IGD) terlebih dahulu sebelum dirawat di ruangan VIP pada 16 Novembr 2017 atau beberapa saat pasca-kecelakaan tunggal. Namun, kala itu Novanto langsung masuk ruang rawat VIP tanpa melewati IGD.

Abdulgani menyatakan hal itu ketika menjadi saksi bagi dr Bimanesh Sutarjo yang didakwa merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/4). Menurutnya, kala itu Setnov -panggilan kondang Novanto- didiagnosis hipertensi.

“Ada konotasi hipertensi emergency. Dalam arti kata gawat darurat,” kata Abdulgani di kursi saksi.

Selain itu, Abdulgani juga memerinci dua jalur bagi pasien sebelum masuk ke ruang rawat, yaitu melalui IGD dan poliklinik. Namun, karena malam itu Novanto diduga mengalami kecelakaan, maka seharusnya dia masuk melalui jalur IGD.

“Lalu ada kecelakaan yang mengakibatkan cedera. Bila ada konotasi emergency, baik itu hipertensi maupun kecelakaan, maka penanganannya kami memiliki IGD. Jadi alur pasien masuk adalah IGD,” ujarnya.

Abdulgani pada persidangan itu juga mengungkapkan, dr Bimanesh telah menyiapkan tim yang akan menangani Novanto. Hal itu dia ketahui dari keterangan Plt Pelayanan Medik RS Permata Hijau dr Alia.

“Dokter Alia hanya memberitakan bahwa seingat saya dr Bimanesh memberikan pengarahan bahwa ada dan sudah dipersiapkan tim untuk menangani,” katanya di depan majelis hakim yang dipimpin Syaifuddin Zuhri.

Abdulgani memastikan tim dokter yang disiapkan dr Bimanesh dari RS Medika. Ada tiga dokter spesialis dalam tim itu, yakni spesialis jantung, spesialis bedah dan spesialis saraf.

“Spesialis jantung pembuluh darah, dokter spesialis bedah dan kemudian spesialis saraf,” sebutnya.

Namun, dokter jaga IGD kala itu, Michael Chia Cahaya sempat menolak permintaan untuk merawat Novanto. Alasannya karena belum melihat kondisinya.

“Yang saya ingat bahwa pengacara Novanto (Fredrich Yunadi, red) datang untuk meminta surat rawat. Supaya dibikinkan surat untuk dirawat. Dokter Michael menolak karena belum melihat pasien,” jelas Hafil.

Dalam perkara itu jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa dr Bimanesh telah melakukan rekayasa agar Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau untuk menghindari penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangani kasus e-KTP.

Bimanesh berdama Fredrich diduga telah melakukan rekayasa catatan kesehatan Novanto sehingga dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.(rdw/JPC)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.