Tarif Pesawat Mahal Gerus Pendapatan Daerah

28

JAKARTA – Masih mahalnya harga tiket pesawat domestik menyebabkan merosotnya pendapatan daerah. Sejumlah pemerintah daerah meminta segera ada solusi mengatasi harga tiket pesawat.

Keluhan kepala daerah itu menjadi masukan pemerintah pusat. Sekretaris Menteri Koordinator bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pihaknya melakukan pertemuan untuk menyelesaikan mahalnya harga tiket pesawat Senin (13/5).

“Selain inflasi tinggi, hampir semua kepala daerah mengeluh, karena destinasi sepi, hotel-hotel akupasinya jatuh sekali bahkan ekonomi daerah destinasi,” ujar Susiwijono.

Catatan Susiwijono, dampak kenaikan tiket pesawat juga menyebabkan penurunan aktivitas bisnis di sektor angkutan udara sendiri. Dari kunjungannya di beberapa daerah mengalami penurunan flight pasca kenaikan harga tiket pesawat.

“Saya setiap ke bandara-banda hampir semuanya flight-nya berkurang. Sekarang pertanyaan dengan tiket tinggi penumpang tinggal separo memang masih untung juga? kan volume juga,” kata Susiwijono.

Menurut susiwijono keluhan masyarakat tarif pesawat tinggi karena selama ini masyarakat dimanjakan oleh harga tiket murah. Hal itu akibat perang harga dan harga yang tidak normal.

“Iya, dulu perang harga sehingga harga enggak realistis semuanya. Kan bu menteri (BUMN), deptutinya ada, Garuda Ada. Mereka bilang karena persaingan yang dulu harganya enggak wajar,” ucap Susiwijono.

Nah, saat harga pesawat bergerak kembali ke harga normal, lanjut Susiwijono, masyarakat belum siap dengan kondisi tersebut. “Sekarang begitu normal harga tiba-tiba tinggi masyarakatnya yang belum siap menyesuaikan itu,” tutur Susiwijono.

Untuk itu, kata dia, pemerintah sebagai regulator harus turun tangan dan menjalankan fungsi kontrolnya. Diketahui, saat ini hanya ada dua maskapai besar yang menguasai pangsa pasar angkutan udara.

Sementara pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan, untuk mengatasi polemik tarif pesawat adalah pemerintah harus mencari harga yang pas untuk calon penumpang. “Solusi yang tepat cari harga dan strategi yang pas untuk pasar Indonesia,” kata Gerry.

Sebelumnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyarankan pe­merintah membuka masuk maskapai asing untuk penerbangan domestik agar hotel dan restoran tetap hidup. (din/fin)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.