Kutuk Penindasan Umat Islam di Uighur

TASIK MENGECAM

70
Khanif Lutfi / FIN TEATRIKAL. Aksi teatrikal mewarnai demonstrasi pelanggaran HAM muslim Uighur di depan Kedubes Cina, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (21/12).

TASIK – Ribuan umat muslim Tasikmalaya melakukan aksi solidaritas untuk warga Uighur, Xinjiang Jumat (21/12). Mereka mengecam diskriminasi yang dilakukan Pemerintah Cina kepada etnis muslim tersebut.

Usai salat Jumat, ribuan massa berkumpul di kawasan Andesit Taman Kota Tasikmalaya dengan membawa poster dan spanduk yang mengecam Pemerintah Cina sambil meneriakkan kalimat takbir.

Hadir beberapa tokoh dalam aksi itu seperti KH Aminudin Bustomi, KH Miftah Fauzi, H Maman Suratman, Ustaz Hilmi, Ustaz Iqmal Isbahizzaman, aktivis Islam dan perwakilan dari Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag). Para tokoh tersebut melakukan orasi di hadapan massa.

Aksi solidaritas ini, disebabkan Pemerintah Cina sudah menyita mushaf Alquran, melarang identitas dan simbol-simbol keislaman bagi muslim Uighur, paksaan meninggalkan agama serta melarang salat Jumat.

Massa menilai apa yang dilakukan Pemerintah Cina kepada etnis Uighur merupakan kejahatan dan pelanggaran HAM berat. Mereka mengutuk atas pelanggaran terhadap piagam HAM dunia yang ditandatangani oleh Pemerintah Cina 1948 silam.

Untuk itu, aksi massa mendesak Pemerintah Cina menghentikan kejahatan terhadap muslim Uighur di Xinjiang. Dan mendorong pemerintah seluruh dunia untuk bersama-sama mendukung kemerdekaan Xinjiang.

Selain itu, massa aksi meminta masyarakat menahan diri dari tindakan yang bisa memberikan dampak negatif kepada umat dan bangsa. Dan selalu waspada terhadap intrik serta konspirasi musuh Islam dengan memperkuat persatuan.

“Kita berharap atas adanya ketidakadilan di Uighur ini, Pemerintah Indonesia memberikan sikap tegas,” ujar KH Aminudin.

Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu negara Islam terbesar tidak boleh tinggal diam. “Kalau tidak juga berhenti, Dubes Cina usir dari sini (Indonesia, Red),” tegasnya.

KH Miftah Fauzi menyesalkan sikap Pemerintah Indonesia yang belum bersikap atas apa yang terjadi di Uighur. Padahal banyak umat muslim di Xinjiang yang mengalami penindasan. “Kami menyayangkan sikap pemerintah yang tidak mengeluarkan kutukan atas kejadian itu (penindasan, Red),” serunya.

Pemerintah, kata dia, seharusnya tidak takut dengan berbagai ancaman. Pasalnya masyarakat tentunya tidak akan tinggal diam jika hal tersebut terjadi. “Apakah kita siap berperang melawan atas penindasan ini, siap berperang mempertahankan NKRI,” teriaknya yang disambut riuh massa.

sekuat apapun negara Cina, menurut Miftah, tidak akan bisa menghancurkan Islam. Karena muslim seluruh dunia akan bersatu menghadang ketika Allah menghendaki. “Mereka bisa merusak bunga, tapi musim semi tak bisa dihadang,” tuturnya menganalogikan dengan sebuah ungkapan.

Namun demikian, kebencian soal penindasan di Uighur bukan ditujukan untuk etnis Cina di daerah. Dia menyeru kebencian itu fokus ditujukan untuk Pemerintahan Cina. “Yang kita kutuk adalah kekejaman Pemerintah Cina,” tuturnya.

Perwakilan dari Bamag, Pendeta Munanda mengaku prihatin atas apa yang terjadi di Uighur. Pihaknya tidak setuju dengan kekejaman yang dilakukan Pemerintah Cina. “Penindasan seperti apapun kami tidak sepakat,” ujarnya.

Usai orasi, massa beramai-ramai membakar spanduk bergambar bendera Cina sebagai bentuk kutukan atas penindasan yang dilakukan kepada umat muslim Uighur. Dilanjutkan dengan longmarch dari Masjid Agung menyusuri jalur HZ Mustofa – Tentara Pelajar – Otto Iskandar Dinata dan kembali ke Masjid Agung.

Saat longmarc berlangsung, jalur terlihat lengang efek rekayasa lalu lintas yang dilakukan kepolisian. Petugas polisi dan TNI turut mengawal massa aksi yang berjalan dengan damai itu hingga selesai. Toko-toko di sepanjang jalur HZ pun tampak buka dan beraktivitas seperti biasanya. Sejumlah anak dengan kantong trash bag sambil mengumpulkan sampah dari massa aksi sehingga lokasi tetap bersih. (rga)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.