kDidampingi Sebanyak 16 Pengacara

Tasikmalaya,Tersangka Lingtar Pilih Bungkam

107

TASIK – Tersangka kasus penggelapan dana pembebasan jalur Lingkar Utara (Lingtar), D tidak mengiyakan atau membantah atas kasus yang disangkakan kepadanya.

Hal itu diakui D saat Radar mem­besuknya di Lapas Klas II B Tasik­malaya. Terlihat dia keluar dari blok tahanan perempuan yang terpisah dari narapidana laki-laki.

Ketika bertemu Radar, D langsung mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Kemudian duduk di sebuah bangku layaknya pengunjung dengan tahanan atau warga binaan.

Menanggapi kasus yang menjeratnya hingga mendekam di balik jeruji besi, D enggan berkomentar. Meskipun kasus ini membangun opini yang menyudutkannya sebagai koruptor. “Saya tidak mau ngasih komentar apa-apa,” katanya di sela perbincangan dengan Radar, Kamis (22/11).

Pensiunan Pegawai Pengadilan Negeri Tasikmalaya itu merekomendasikan agar wawancara kepada kuasa hukum terkait permasalahannya. Karena, kata D, sebanyak 16 pengacara yang akan mendampinginya menjalani proses hukum. “Langsung saja ke pengacara, Ecep dan kawan-kawan,” ungkapnya.

Ditanya soal kondisinya saat ini, secara fisik D mengaku sehat. Tentang proses hukum yang sedang diikuti dan dijalaninya pun, dia menyikapi dengan pikiran yang jernih dan kepala dingin. “Insya Allah saya tegar menghadapi ini,” katanya.

Meski, dirinya tidak menyangka sebagai pensiunan panitera yang sebelumnya berhubungan dengan Lapas karena urusan tugas, sekarang menjadi penghuninya. D pun sudah mulai mengakrabkan diri khususnya dengan tahanan dan narapidana perempuan di tempat itu.

Kalapas Klas II B Tasikmalaya Tunggul Buwono menilai tidak ada perbedaan menonjol antara D dengan tahanan/narapidana perempuan lainnya. Tersangka, kata Tungguk, kooperatif mengikuti sistem di dalam Lapas. “Biasa saja, tidak depresi atau gimana,” ujarnya.

Dalam blok wanita itu, D disatukan dengan pelaku kejahatan lainnya dari mulai penyalahguna narkoba, pencuri, penipu, pelaku pelanggaran ITE, dan kasus perlindungan anak. “Ada 20 tahanan dan napi perempuan disatukan dalam satu blok,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, diprosesnya D, sebagai tersangka kasus penggelapan dana pembebasan lahan jalur Lingkar Utara (Lingtar), tidak menggugurkan kewajibannya mengembalikan dana yang digelapkannya. Bahkan Pensiunan Pengadilan Negeri Tasikmalaya itu pun terancam denda yang tidak sedikit.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya Masmudi SH menerangkan dana yang digelapkan D merupakan uang negara. Maka perlu dikumpulkan kembali dan diserahkan kepada negara, untuk diberikan kepada masyarakat yang berhak. “Itu kan (dana yang digelapkan, Red) haknya para pemilik lahan, ya harus dikembalikan,” ungkapnya kepada Radar, Rabu (21/11).

Untuk itu, kata dia, pihaknya terus menelusuri kemana aliran dana dari uang yang digelapkan D. Namun Masmudi tidak bisa membeberkan secara detail, karena hal itu merupakan materi persidangan. “Yang jelas istilahnya itu kita follow the money,” tuturnya.

Setelah peta aliran penggunaan dana tersebut diketahui, kata Masmudi, Kejaksaan akan segera melakukan sita. Sekalipun dana tersebut sudah berubah bentuk baik barang maupun aset usaha. “Tentu akan kita sita, kalau pun uangnya dijadikan modal usaha, asetnya akan kita sikat,” terangnya.

Terkait motif dari penggelapan dana konsinyasi yang dilakukan D, Masmudi pun enggan buka suara. Pihaknya hanya menekankan apa yang dilakukan oleh D sudah merupakan tindak pidana. “Yang jelas dia sudah menggunakan dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.