Teknik Token Economic Modifikasi Perilaku Anak

278

ANAK adalah titipan Allah SWT yang telah dibekali dengan berbagai potensi. Tugas orang tua, guru, dan lingkungan adalah menyediakan lingkungan yang mampu memfasilitasi semua potensi anak agar dapat berkembang secara maksimal. Namun, tidak setiap orang tua dan lingkungan mampu menyediakan berbagai fasilitas. Karenanya sekolah memiliki peran penting pengganti orang tua dan masyarakat.

Banyak harapan peserta didik dan orang tua yang dibebankan kepada sekolah untuk dapat mewujudkan cita-citanya. Melalui sekolah, peserta didik berharap cita-cita mereka dapat terwujud. Orang tua berharap, sekolah mampu mendidik anaknya supaya menjadi manusia yang berakhlak mulia, cerdas, dan terampil, sebab peserta didik berhak untuk memperoleh peluang mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan (Yusuf, 2010 : 169).

Namun dalam realitasnya, belum setiap anak atau peserta didik memperoleh peluang yang sama. Banyak faktor yang menyebabkan hilangnya peluang dimaksud. Antara lain; terdapatnya perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing anak, baik pada aspek fisik, intelegensi, sosial, emosi, perilaku, maupun peluang memperoleh kesempatan pendidikan.

Dalam proses belajar mengajar misalnya. Guru sering menemukan peserta didik atau anak yang berperilaku tidak adaftif (tidak diterima oleh lingkungan). Ada anak yang suka berkelahi, memukul orang, menyerang orang lain, pemarah, dan lain sebagainya. Sejatinya setiap guru harus memiliki kompetensi bagaimana menangani perilaku anak yang tidak adaftif tersebut.

Modifikasi perilaku (Edi Purwanta, 2012) merupakan teknik mengubah perilaku yang dianggap paling populer di lingkungan pendidik. Teori ini memiliki dua tujuan; mendukung dan mempromosikan perilaku-perilaku anak yang adaptif dan modifikasi perilaku untuk meniadakan munculnya perilaku anak yang tidak adaftif.

Dari sekian teknik yang dapat digunakan untuk memodifikasi perilaku adalah teknik tabungan keping (token economic). Teknik ini digunakan dengan cara pemberian satu keping (tanda, isyarat) sesegera mungkin setiap kali setelah perilaku sasaran muncul. Kepingan-kepingan tersebut nantinya dapat ditukar dengan benda atau aktivitas pengukuh lain (pengukuh idaman) yang diinginkan subjek.

Contoh kasus di kelas; Sebut saja Si A terbiasa memukul teman. Tanpa alasan yang jelas dia selalu memukul orang dan dilakukan setiap hari. Pada sisi lain si A juga hobi main komputer di sekolah. Nyaris tidak waktu istirahat yang terbuang untuk main komputer. Setiap hari si A masuk ke ruang komputer untuk bermain. Dalam situasi ini, guru menemukan dua prilaku yang berlawan. Ada perilaku tidak adaftif (memukul orang) di satu pihak dan perilaku adaftif (bermain komputer) di pihak lain. Guru dapat mencoba menerapkan teknik token economic ini.

Langkah yang bisa dilakukan guru adalah guru membuat aturan yang jelas dan disepakati oleh anak. Misalnya untuk bisa main komputer di sekolah. Setiap anak harus memiliki koin sebanyak empat keping koin selama empat hari. Setiap satu keping koin dapat ditukarkan dengan satu surat izin main komputer yang disimpan di bagian laboratorium komputer.

Kalau dalam satu hari si A tidak memukul orang, maka dia memperoleh satu keping koin untuk ditukarkan menjadi satu surat izin. Begitu seterusnya sampai si A memperoleh empat keping koin yang ditukarkan dengan empat surat izin. Kalau sudah memperoleh empat surat izin, guru harus segera mengizinkan si A untuk menggunakan komputer di sekolah.

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dalam menerapkan teknik ini. Yaitu (a) lingkungan terkontrol, (b) sasaran perilaku yang spesifik, (c) tujuan dapat terukur, (d) jenis keinginan jelas, (e) kepingan berfungsi sebagai hadiah, (f) sesuai dengan prilaku yang diinginkan, dan (g) mempunyai makna pengukuhan. Kalau teknik ini dilakukan dengan baik, konsisnten, dan sabar, maka lama kelamaan anak yang suka memukul orang akan berhenti. Inilah hakikat dari modifikasi perilaku.

Guru dapat melakukan berbagai teknik dan cara untuk meniadakan perilaku yang tidak adaftif dengan teknik dan cara yang lebih humanis. Menggunakan teknik dan cara yang tidak humanis apalagi kasar sangat bertentangan dengan hakikat pendidikan itu sendiri (bersifat humanisasi). Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia menjadi “manusia”. Melalui pendidikan, manusia akan memiliki nilai dan sifat kemanusiaan yang telah digariskan oleh sang pencipta, Allah SWT. Dan dengan nilai-nilai kemanusiaan inilah manusia dapat hidup bersama manusia pula. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.